KELUARGA SAKINAH

Hidup adalah perjuangan dan perjuangan memerlukan bekal, dan bekal terbaik adalah ILMU dan untuk pengenalan dasar agama, kutitipkan Buah hatiku di SDI IBNU HAJAR

My family

My family
2

My second son

My second son
Muh. Zaini Al Hadi

Nabil in Action

Nabil in Action
Happy and Sad

Pada pernikahan Eni

Pada pernikahan Eni
ketika anak masih 1

Marcadores

Labels

M. ZEIN
http://www.google.com/intl/en/images/logos/translate_logo_sm.png
NABIL N ZEIN
http://sdiibnuhajar.blogspot.com/. Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Abdullah hadi
Saya alumni SDN Pelandakan 2 Cirebon, SMPN Cirebon Selatan, Ponpes Al Hayat Baru Miftahul muta'alimin Babakan Ciwaringin Cirebon, Darussalam Gontor, ISID Gontor, dan masih meneruskan Kuliah yang tertunda
Lihat profil lengkapku

Pengikut

Rabu, 24 Agustus 2011

My TV Online

►►► Written by :DEMAS~drj7Script MIVO.TV
Selasa, 16 Agustus 2011

Bukti Tuhan itu Ada


undefinedBeriman bahwa Tuhan itu ada adalah iman yang paling utama. Jika seseorang sudah tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, maka sesungguhnya orang itu dalam kesesatan yang nyata.
Benarkah Tuhan itu ada? Kita tidak pernah melihat Tuhan. Kita juga tidak pernah bercakap-cakap dengan Tuhan. Karena itu, tidak heran jika orang-orang atheist menganggap Tuhan itu tidak ada. Cuma khayalan orang belaka.
Ada kisah zaman dulu tentang orang atheist yang tidak percaya dengan Tuhan. Dia mengajak berdebat seorang alim mengenai ada atau tidak adanya Tuhan. Di antara pertanyaannya adalah: “Benarkah Tuhan itu ada” dan “Jika ada, di manakah Tuhan itu?”
Ketika orang atheist itu menunggu bersama para penduduk di kampung tersebut, orang alim itu belum juga datang. Ketika orang atheist dan para penduduk berpikir bahwa orang alim itu tidak akan datang, barulah muncul orang alim tersebut.
“Maaf jika kalian menunggu lama. Karena hujan turun deras, maka sungai menjadi banjir, sehingga jembatannya hanyut dan saya tak bisa menyeberang. Alhamdulillah tiba-tiba ada sebatang pohon yang tumbang. Kemudian, pohon tersebut terpotong-potong ranting dan dahannya dengan sendirinya, sehingga jadi satu batang yang lurus, hingga akhirnya menjadi perahu. Setelah itu, baru saya bisa menyeberangi sungai dengan perahu tersebut.” Begitu orang alim itu berkata.
Si Atheist dan juga para penduduk kampung tertawa terbahak-bahak. Dia berkata kepada orang banyak, “Orang alim ini sudah gila rupanya. Masak pohon bisa jadi perahu dengan sendirinya. Mana bisa perahu jadi dengan sendirinya tanpa ada yang membuatnya!” Orang banyak pun tertawa riuh.
Setelah tawa agak reda, orang alim pun berkata, “Jika kalian percaya bahwa perahu tak mungkin ada tanpa ada pembuatnya, kenapa kalian percaya bahwa bumi, langit, dan seisinya bisa ada tanpa penciptanya? Mana yang lebih sulit, membuat perahu, atau menciptakan bumi, langit, dan seisinya ini?”
Mendengar perkataan orang alim tersebut, akhirnya mereka sadar bahwa mereka telah terjebak oleh pernyataan mereka sendiri.
“Kalau begitu, jawab pertanyaanku yang kedua,” kata si Atheist. “Jika Tuhan itu ada, mengapa dia tidak kelihatan. Di mana Tuhan itu berada?” Orang atheist itu berpendapat, karena dia tidak pernah melihat Tuhan, maka Tuhan itu tidak ada.
Orang alim itu kemudian menampar pipi si atheist dengan keras, sehingga si atheist merasa kesakitan.
“Kenapa anda memukul saya? Sakit sekali.” Begitu si Atheist mengaduh.
Si Alim bertanya, “Ah mana ada sakit. Saya tidak melihat sakit. Di mana sakitnya?”
“Ini sakitnya di sini,” si Atheist menunjuk-nunjuk pipinya.
“Tidak, saya tidak melihat sakit. Apakah para hadirin melihat sakitnya?” Si Alim bertanya ke orang banyak.
Orang banyak berkata, “Tidak!”
“Nah, meski kita tidak bisa melihat sakit, bukan berarti sakit itu tidak ada. Begitu juga Tuhan. Karena kita tidak bisa melihat Tuhan, bukan berarti Tuhan itu tidak ada. Tuhan ada. Meski kita tidak bisa melihatNya, tapi kita bisa merasakan ciptaannya.” Demikian si Alim berkata.
Sederhana memang pembuktian orang alim tersebut. Tapi pernyataan bahwa Tuhan itu tidak ada hanya karena panca indera manusia tidak bisa mengetahui keberadaan Tuhan adalah pernyataan yang keliru.
Berapa banyak benda yang tidak bisa dilihat atau didengar manusia, tapi pada kenyataannya benda itu ada?
Betapa banyak benda langit yang jaraknya milyaran, bahkan mungkin trilyunan cahaya yang tidak pernah dilihat manusia, tapi benda itu sebenarnya ada?
Berapa banyak zakat berukuran molekul, bahkan nukleus (rambut dibelah 1 juta), sehingga manusia tak bisa melihatnya, ternyata benda itu ada? (manusia baru bisa melihatnya jika meletakan benda tersebut ke bawah mikroskop yang amat kuat).
Berapa banyak gelombang (entah radio, elektromagnetik. Listrik, dan lain-lain) yang tak bisa dilihat, tapi ternyata hal itu ada.
Benda itu ada, tapi panca indera manusia lah yang terbatas, sehingga tidak mengetahui keberadaannya.
Kemampuan manusia untuk melihat warna hanya terbatas pada beberapa frekuensi tertentu, demikian pula suara. Terkadang sinar yang amat menyilaukan bukan saja tak dapat dilihat, tapi dapat membutakan manusia. Demikian pula suara dengan frekuensi dan kekerasan tertentu selain ada yang tak bisa didengar juga ada yang mampu menghancurkan pendengaran manusia. Jika untuk mengetahui keberadaan ciptaan Allah saja manusia sudah mengalami kesulitan, apalagi untuk mengetahui keberadaan Sang Maha Pencipta!
Memang sulit membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Tapi jika kita melihat pesawat terbang, mobil, TV, dan lain-lain, sangat tidak masuk akal jika kita berkata semua itu terjadi dengan sendirinya. Pasti ada pembuatnya.
Jika benda-benda yang sederhana seperti korek api saja ada pembuatnya, apalagi dunia yang jauh lebih kompleks.
Bumi yang sekarang didiami oleh sekitar 8 milyar manusia, keliling lingkarannya sekitar 40 ribu kilometer panjangnya. Matahari, keliling lingkarannya sekitar 4,3 juta kilometer panjangnya. Matahari, dan 9 planetnya yang tergabung dalam Sistem Tata Surya, tergabung dalam galaksi Bima Sakti yang panjangnya sekitar 100 ribu tahun cahaya (kecepatan cahaya=300 ribu kilometer/detik!) bersama sekitar 100 milyar bintang lainnya. Galaksi Bima Sakti, hanyalah 1 galaksi di antara ribuan galaksi lainnya yang tergabung dalam 1 “Cluster”. Cluster ini bersama ribuan Cluster lainnya membentuk 1 Super Cluster. Sementara ribuan Super Cluster ini akhirnya membentuk “Jagad Raya” (Universe) yang bentangannya sejauh 30 Milyar Tahun Cahaya! Harap diingat, angka 30 Milyar Tahun Cahaya baru angka estimasi saat ini, karena jarak pandang teleskop tercanggih baru sampai 15 Milyar Tahun Cahaya.
Bayangkan, jika jarak bumi dengan matahari yang 150 juta kilometer ditempuh oleh cahaya hanya dalam 8 menit, maka seluruh Jagad Raya baru bisa ditempuh selama 30 milyar tahun cahaya. Itulah kebesaran ciptaan Allah! Jika kita yakin akan kebesaran ciptaan Tuhan, maka hendaknya kita lebih meyakini lagi kebesaran penciptanya.
Dalam Al Qur’an, Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan langit, bintang, matahari, bulan, dan lain-lain:
“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” [Al Furqoon:61]
Ada jutaan orang yang mengatur lalu lintas jalan raya, laut, dan udara. Mercusuar sebagai penunjuk arah di bangun, demikian pula lampu merah dan radar. Menara kontrol bandara mengatur lalu lintas laut dan udara. Sementara tiap kendaraan ada pengemudinya. Bahkan untuk pesawat terbang ada Pilot dan Co-pilot, sementara di kapal laut ada Kapten, juru mudi, dan lain-lain. Toh, ribuan kecelakaan selalu terjadi di darat, laut, dan udara. Meski ada yang mengatur, tetap terjadi kecelakaan lalu lintas.
Sebaliknya, bumi, matahari, bulan, bintang, dan lain-lain selalu beredar selama milyaran tahun lebih (umur bumi diperkirakan sekitar 4,5 milyar tahun) tanpa ada tabrakan. Selama milyaran tahun, tidak pernah bumi menabrak bulan, atau bulan menabrak matahari. Padahal tidak ada rambu-rambu jalan, polisi, atau pun pilot yang mengendarai. Tanpa ada Tuhan yang Maha Mengatur, tidak mungkin semua itu terjadi. Semua itu terjadi karena adanya Tuhan yang Maha Pengatur. Allah yang telah menetapkan tempat-tempat perjalanan (orbit) bagi masing-masing benda tersebut. Jika kita sungguh-sungguh memikirkan hal ini, tentu kita yakin bahwa Tuhan itu ada.
“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Yunus:5]
“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaa Siin:40]
Sungguhnya orang-orang yang memikirkan alam, insya Allah akan yakin bahwa Tuhan itu ada:
“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” [Ar Ra’d:2]
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [Ali Imron:191]
Terhadap manusia-manusia yang sombong dan tidak mengakui adanya Tuhan, Allah menanyakan kepada mereka tentang makhluk ciptaannya. Manusiakah yang menciptakan, atau Tuhan yang Maha Pencipta:
“Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?” [Al Waaqi’ah:58-59]
“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?” [Al Waaqi’ah:63-64]
“Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?” [Al Waaqi’ah:72]
Di ayat lain, bahkan Allah menantang pihak lain untuk menciptakan lalat jika mereka mampu. Manusia mungkin bisa membuat robot dari bahan-bahan yang sudah diciptakan oleh Allah. Tapi untuk menciptakan seekor lalat dari tiada menjadi ada serta makhluk yang bisa bereproduksi (beranak-pinak), tak ada satu pun yang bisa menciptakannya kecuali Allah:
“…Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” [Al Hajj:73]
Sesungguhnya, masih banyak ayat-ayat Al Qur’an lainnya yang menjelaskan bahwa sesungguhnya, Tuhan itu ada, dan Dia lah yang Maha Pencipta.

KUMPULAN ARTIKEL " NUZULUL QUR'AN "

KH. Abdullah Gymnastiar
 
Segala puji bagi Allah SWT. Alhamdulillahilladzi liyadzadu iimaanan maa 'aimaanihim. Sholawat dan salam semoga tercurah selalu bagi Rasulullah panutan kita, yang membangunkan dan menuntun hati nurani kita, menjadi cahaya bagi segala perbuatan mulia.
Bangsa kita sesungguhnya dikaruniai Alloh potensi yang begitu dahsyat, yang jika disyukuri dengan cara mengelolanya dengan tepat, niscaya berpeluang menjadi negara besar yang berwibawa dan bermartabat.
Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah ruah baik berupa daratan, lautan serta apapun yang terkandung didalamnya; maupun lokasi geografis dan keindahan alam, negeri kita bagaikan percikan surga yang tertetes di dunia.
Potensi manusia dengan jumlah dua ratus duapuluh juta lebih dengan aneka kemampuannya, merupakan aset berharga jika disinergikan dengan formula yang tepat. 
Dan aset yang tidak ternilai harganya adalah sumber keyakinan bagi mayoritas penduduk Indonesia, yaitu aqidah Islam yang diyakini bersama sebagai agama yang paripurna, rahmatan lil `alamiin, yang dapat menjadi solusi yang universal. Namun, bila kita melihat kenyataan, ternyata semua potensi seakan-akan tidak berbuah kenyataan yang dicita- citakan bersama. Bahkan, aneka bala dan musibah dari berbagai sisi kehidupan begitu lekat dan memilukan.
Sudah kita dengar bersama upaya untuk menyehatkan dan mensejahterakan masyarakat, namun kita wajib mengevaluasi hal-hal pokok yang menjadi kunci permasalahan.
Masyarakat kita relatif berbadan sehat, juga berpikir normal, bahkan sebagian ada yang berfisik sangat kuat dan berotak cerdas. Hanya sedikit masyarakat yang berpenyakit lahir dan ia juga berpenyakit akal. Rupanya yang sedang berjangkit di negara kita secara umum, justru penyakit qolbu/hati nurani. Karena orang yang kuat dan cerdas akal pikirannya, yang tidak sehat qolbunya ternyata mereka itulah yang menjadi biang-biang kerusakan dan kesengsaraan bagi bangsa ini. Dengan kata lain, kelemahan bangsa kita ini adalah belum sungguh-sungguh memprogram untuk menghidupkan dan membangkitkan kekuatan nurani yang akan menuntun akal pikiran, sikap dan tingkah laku menjadi penuh nilai kemuliaan dan kehormatan yang hakiki, karena qolbu adalah inti terpenting dari manusia yang akan mengatur segala sikapnya. Sabda Rasulullah:
"Alaa inna fil jasad mudhgoh Idza soluhat soluha jazadukuluhu Waidza fasadat fasada jasadukuluhu Alaa wa hiyal qolbu"
"Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu." (HR. Bukhari Muslim)
Dan sumber kerusakan ini menurut Rasulullah adalah: Dapat diperkirakan bahwa kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang berebut melahap isi mangkok. Para sahabat bertanya, "Apakah pada saat itu jumlah kami sediit ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Tidak, bahkan saat itu jumlah kalian banyak sekali, tetapi seperti buih air bah dan kalian ditimpa penyakit wahn". Mereka bertanya lagi, "Apakah penyakit wahn itu ya Rasulullah?", beliau menjawab "Hubbud dunya (kecintaan yang amat sangat kepada dunia ) dan takut mati".  HR Abu Dawud
Gejalanya bisa kita lihat dari tingkah polah dalam memperebutkan duniawi ini (harta, kedudukan, kekuasaan, popularitas, kesenangan duniawi, gelar, pangkat, jabatan yang ditujukan hanya untuk kepuasan dunia belaka), tidak sedikit orang yang menghalalkan cara-cara tak terpuji sehingga mendzolimi hak-hak orang lain. Bagi yang telah mendapatkannya, juga melakukan perbuatan yang tak mulia yaitu dengan gemar pamer kemewahan, hidup dengan biaya tinggi, menjadi jalan kecurigaan dan kedengkian bagi yang lain; dan untuk mempertahankan dunia yang dimilikinya sering pula melakukan tindakan yang melupakan kepentingan masyarakat. Bagi masyarakat yang ada dalam keterbatasan, melihat situasi yang materialistis membuat terbuai angan-angannya sehingga melakukan tindakan yang mencoreng harga dirinya.
Pendek kata, budaya cinta dunia atau materialistis adalah biang masalah yang beranak-pinak dengan kesombongan, kemewahan, kedengkian, keserakahan, kezoliman dan bercucu pada permusuhan, keinginan untuk menghancurkan orang lain, dan akibatnya seperti yang kita rasakan sekarang ini.
Kita harus mulai membangunkan nurani masyarakat dengan cara mensosialiksasikan obat penyembuhnya, yaitu membangun hidup mulia dengan bersahaja, hidup proporsional, tidak berbudaya bersembunyi dibalik topeng duniawi dan hal ini sangat memungkinkan kita lakukan setidaknya dengan empat kunci :
1. Suri tauladan yang nyata
Harus menjadi kesadaran para pemimpin bahwa mereka benar-benar diperhatikan dan ditiru oleh masyarakat. Kita harus membudayakan memilih para pemimpin yang berani hidup bersahaja dan mengutamakan kemampuan memimpin dengan adil dan profesional, dibanding dengan orang yang hanya mampu mempertontonkan kedudukan dan kekayaaannya. Nabi Muhammad SAW membangun peradaban dengan menjadi suri tauladan yang nyata. Ini harus menjadi budaya bagi para pemimpin, dengan tidak menyuruh orang lain sebelum menyuruh dirinya sendiri. Tidak melarang orang lain sebelum melarang diri sendiri. Lebih banyak berkata dengan karya dan tauladan nyata, daripada hanya berbuat dengan perkataan.
Masyarakat sesungguhnya sangat tercuri hatinya kepada para pemimpin yang bisa berbuat banyak, namun amat bersahaja dalam hidupnya. Pada saat yang sama, masyarakatpun teramat curiga dan dengki kepada para pemimpin yang hidup glamour, yang mereka yakini semuanya itu adalah uang rakyat.
2. Pendidikan dan pelatihan, juga pembinaan secara sistematis berkesinambungan terhadap masyarakat
Perlu kesadaran dan kesepakatan bersama untuk mendidik segala lapisan masyarakat dengan menggunakan seluruh media yang ada untuk mengetahui nilai-nilai keutamaan hidup berhati bersih, bernurani dan hidup tidak materialistis, baik lewat pendidikan di sekolah/kampus, melalui aneka sinetron film/televisi ataupun radio, untuk mendampingi pendidikan lewat suri tauladan dari para pemimpin / tokoh panutan masyarakat.
3. Sistem yang kondusif
Kitapun harus bekerja keras untuk membangun system dalam bentuk undang-undang, aturan-aturan lainnya yang mendukung perubahan sikap di masyarakat untuk tidak berjiwa materialistis dan sangat menghargai nilai-nilai kemuliaan ahlak dan moral, dengan cara membuat peraturan yang benar- benar adil dan konsisten untuk menegakkannya. Nabi Muhammad berlaku adil terhadap siapapun, termasuk kepada keluarganya sendiri.
Menegakkan supremasi hukum adalah bagian kunci yang teramat penting untuk membangun harapan di masyarakat, bahwa memburu dunia tidak dengan cara yang benar, akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Menegakkan hukum dengan adil, tidak dengan kebencian dan dendam, akan membuat keadilan menjadi sesuatu yang indah dan menjadi tumpuan semua pihak.
Ketidak-seriusan menegakkan sistem yang adil akan mengundang ketidakpuasan, dan ini akan mengundang pula aneka masalah yang lebih pelik dan merugikan.
4. Membangun kekuatan ruhiyah
Sebagai orang yang beriman, selalu harus kita sadari bahwa kita semua hanya sekedar mahluk yang sangat banyak memiliki keterbatasan, dan Alloh-lah yang Maha Kuasa menolong siapapun yang Dia kehendaki, karena Dia-lah yang menggengam segala masalah dan jalan keluarnya.
Laa haulaa walaa quwwata illa billahil aliyil'aziim. Maka, harus dicanangkan kebangkitan ruhiyah nasional dengan memotivasi masyarakat untuk melakukan kebangkitan ibadah dengan benar lebih intensif. Baik yang fardhu maupun sunah, yang tentu diawali dengan suri teladan dari semua tokoh panutan dan difasilitasi baik tempat, waktu/kesempatan, dan dana, agar masyarakat --selain lebih terkendali-- juga doa-doanya mendatangkan pertolongan Allah seperti yang dijanjikan. Surat at Thalaq ayat 23 menyatakan, yang artinya, "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberi jalan keluar dari segala urusannya dan memberi rezeki dari tempat yang tidak disangka-sangka, dan barang siapa yang bertawakal niscaya akan dicukupi segala kebutuhannya." Amatlah tipis harapan kita akan keluar dengan baik dari permasalahan ini tanpa bimbingan Allah, karena manusia amatlah terbatas dalam segalanya, tak mampu berbuat apa pun tanpa izin-Nya.
Penutup
Semoga dengan kombinasi ikhtiar lahir batin, suri tauladan yang nyata, pola pendidikan dan pembinaan juga sistem yang kondusif dan ketangguhan dalam ibadah seluruh elemen masyarakat, menjadikan semua masalah yang ada pada bangsa kita ini akan membuahkan budaya hidup baru yang benar-benar akan menjadi fondasi bagi masyarakat maju yang beradab.
Yaitu masyarakat yang produktif dalam aktivitas di dunia, namun didasari dengan niat yang bersih karena Alloh, menjalankan aktivitasnya sebagai ibadah dan diwarnai dengan kebersihan hati, jauh dari segala kesombongan, riya, kedengkian, cinta dunia atau aneka penyakit hati lainnya, yang semua ini akan terpancar dari ahlak yang bermutu tinggi di lapisan manapun mereka berkiprah.
Dan warisan terbesar dari setiap insan yang diberi amanah adalah kemuliaan pribadi, buah dari kebersihan hati yang merupakan tanda kesuksesan dan keselamatan kehidupan seorang manusia, yang lebih tinggi nilainya dari topeng duniawi apapun yang disandangnya sejenak didunia ini.
Hanya kepada Alloh-lah kembalinya segala urusan, dan hanya Dia-lah yang akan menerima amal, dan tiada pertemuan dengan-Nya kecuali hanya orang yang berhati bersih dan selamat.


Nuzulul Qur’an Sebagai Peringatan atau Pelajaran


Pada bulan Ramadhan banyak umat Islam yang menggelar acara peringatan Nuzulul Qur’an. Untuk itu perlu kiranya kali ini menyoroti masalah Nuzulul Qur’an, hukum memperingatinya dan fungsi utama diturunkannya Al-Qur’an.
Syekh Shafiyur Rahman Al-Mubarakfuriy (penulis Sirah Nabawiyah) menyatakan bahwa para ahli sejarah banyak berbeda pendapat tentang kapan waktu pertama kali diturunkannya Al-Qur’an, pada bulan apa dan tanggal berapa, paling tidak ada tiga pendapat :
Pertama: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an itu ada pada bulan Rabiul Awwal,
Kedua: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an itu pada bulan Rajab,
Ketiga: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an itu pada bulan Ramadhan.
Yang berpendapat pada bulan Rabiul Awwal pecah menjadi tiga, ada yang mengatakan awal Rabiul Awwal, ada yang mengatakan tanggal 8 Rabiul Awwal dan ada pula yang mengatakan tanggal 18 Rabiul Awwal (yang terakhir ini diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallaahu anhu).
Kemudian yang berpendapat pada bulan Rajab terpecah menjadi dua. Ada yang mengatakan tanggal 17 dan ada yang mengatakan tanggal 27 Rajab (hal ini diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu -lihat Mukhtashar Siratir Rasul, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdy, hal.75 -).
Al Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam Fathul Bari berkata bahwa: Imam Al-Baihaqi telah mengisahkan bahwa masa wahyu mimpi adalah 6(enam) bulan.
Maka berdasarkan kisah ini permulaan kenabian dimulai dengan mimpi shalihah (yang benar) yang terjadi pada bulan kelahirannya yaitu bulan Rabiul Awwal ketika usia beliau genap 40 tahun. Kemudian permulaan wahyu yaqzhah (dalam keadaan terjaga) dimulai pada bulan Ramadhan.
Sesungguhnya kita menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an ada pada bulan Ramadhan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, artinya,“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an” (Al-Baqarah:185 ). Dan Allah berfirman, artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan” (Al-Qadr :1).
Seperti yang telah kita maklumi bahwa Lailatul Qadr itu ada pada bulan Ramadhan yaitu malam yang dimaksudkan dalam firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan” (Ad-Dukhaan:3 ).
Dan karena menyepinya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam di gua Hira’ adalah pada bulan Ramadhan, dan kejadian turunnya Jibril as adalah di dalam gua Hira’. Jadi Nuzulul Qur’an ada pada bulan Ramadhan, pada hari Senin, sebab semua ahli sejarah atau sebagian besar mereka sepakat bahwa diutusnya beliau menjadi Nabi adalah pada hari Senin. Hal ini sangat kuat karena Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ketika ditanya tentang puasa Senin beliau menjawab: “Di dalamya aku dilahirkan dan di dalamnya diturunkan (wahyu) atasku” (HR. Muslim).
Dalam sebuah lafadz dikatakan “Itu adalah hari dimana aku dilahirkan dan hari dimana aku diutus atau diturunkan (wahyu) atasku”(HR. Muslim, Ahmad, Baihaqi dan Al-Hakim).
Akan tetapi pendapat ketiga inipun pecah menjadi lima, ada yang mengatakan tanggal 7 (hari Senin), ada yang mengatakan tanggal 14 (hari Senin), ada yang mengatakan tanggal 17 (hari Kamis), ada yang mengatakan tanggal 21 (hari Senin) dan ada yang mengatakan tanggal24 (hari Kamis).
Pendapat ” 17Ramadhan” diriwayatkan dari sahabat Al-Bara’ bin Azib dan dipilih oleh Ibnu Ishaq, kemudian oleh Ustadz Muhammad Huzhari Bik.
Pendapat ” 21Ramadhan” dipilih oleh Syekh Al-Mubarakfuriy, karena Lailatul Qadr ada pada malam ganjil, sedangkan hari Senin pada tahun itu adalah tanggal7 ,14 , 21 dan28 .
Sedangkan pendapat ” 24Ramadhan” diriwayatkan dari Aisyah, Jabir dan Watsilah bin Asqo’ , dan dipilih oleh Ibnu Hajar Al-Haitamiy, ia mengatakan: “Ini sangat kuat dari segi riwayat”.
Karena itu memperingati peristiwa turunnya Al-Qur’an pertama kali tidaklah penting, sebab di samping hal itu tidak dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabatnya dan para tabi’in, Al-Qur’an diturunkan tidaklah untuk diperingati tetapi untuk memperingatkan kita.
Peristiwa Nuzulul Qur’an bukanlah diharapkan agar dijadikan sebagai hari raya oleh umat ini, yang dirayakan setiap tahun, karena Islam bukanlah agama perayaan sebagaimana halnya agama-agama lain.”
Islam tidak memerlukan polesan, tidak perlu dibungkus dengan perayaan-perayaan yang membuat orang-orang tertarik kepadanya. Karena itu pesta hari raya tahunan di dalam Islam hanya ada dua yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.
Jadi turunnya Al-Qur’an bukan untuk diperingati setiap tahunnya, melainkan untuk memperingatkan kita setiap saat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan, artinya: “Alif Lam Mim Shaad. Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir) dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman” (Al-A’raaf:1-2).
Bukan Cara Salafus Shalih
Memperingati peristiwa turunnya Al-Qur’an bukanlah cara orang-orang shaleh yang muttaqin. Akan tetapi jejak ulama-ulama salaf adalah membaca Al-Qur’an, membaca dan membaca lagi. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman, artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi” (Faathir:29 ).
Apalagi di bulan Ramadhan, bulan Al-Qur’an ini, Umar radhiallaahu anhu berkata: “Seandainya kita bersih, tentu akan merasa kenyang dari kalam Allah. Sesungguhnya aku amat tidak suka manakala datang sebuah hari sementara aku tidak membaca Al-Qur’an.”
Karena itu beliau tidak meninggal dunia sehingga mushafnya sobek karena seringnya dibaca. Dan ketika menjadi imam pada shalat shubuh beliau sering membaca surat Yusuf yang terdiri dari 111 ayat tertulis dalam 13 halaman, yang berarti satu sepertiga juz.
Hal ini tidak mengherankan karena khalifah kedua Umar bin Khatthab radhiallaahu anhu ketika memimpin shalat shubuh juga selalu membaca surat-surat yang bilangan ayatnya lebih dari 100 ayat seperti surat Al Kahfi (11 halaman), surat Maryam (7 halaman) dan surat Thaha (10 halaman).
Begitulah generasi Qur’ani sangat mencintai Al-Qur’an. Mereka tidak pernah merayakan peristiwa Nuzulul Qur’an tetapi shalatnya membaca ratusan ayat, sementara kita sebaliknya.
Shalat tarawih di jaman salaf rata-rata membutuh-kan waktu 5 jam, dan kadang-kadang semalam suntuk, yang berarti setiap satu rakaat tarawih (dari sebelas rakaat) membutuhkan waktu 40 menit. Bahkan para sahabat banyak yang shalat sambil bersandar dengan tongkat karena terlalu lamanya berdiri.
Mengkhususkan Membaca Al-Qur’an
Para tabi’in dan tabi’ittabi’in, karena begitu memahami arti dari Ramadhan, bulan Al-Qur’an, dan begitu kuatnya dalam mencintai Al-Qur’an, maka bila bulan Ramadhan tiba mereka mengkhususkan diri untuk membaca Al-Qur’an seperti yang dilakukan oleh Imam Az-Zuhri dan Sufyan Ats-Tsauri. Sehingga dalam satu bulan khatam Al-Qur’an berpuluh puluh kali. Imam Qatadah umpamanya, di luar Ramadhan khatam setiap tujuh hari, di dalam Ramadhan khatam setiap tiga hari, dan di sepuluh hari terakhir khatam setiap hari. Sementara Imam Syafi’i di luar Ramadhan setiap hari khatam sekali, dan di dalam Ramadhan setiap hari khatam dua kali. Itu semua di luar shalat.
Begitulah ulama Ahlus Sunah tidak pernah merayakan Nuzulul Qur’an, namun setiap hari khatam Al-Qur’an, ada yang sekali dan ada yang dua kali. Sementara kita sebulan Ramadhan jika khatam sekali saja maka sudah puas dan gembira. Itupun bisa dihitung dengan jari.
Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah selama di dalam penjara, dari tanggal 7 Sya’ban 726 H sampai wafatnya 22 Dzulqa’dah 728 H, selama2 tahun 4 bulan beliau telah mengkhatamkan Al-Qur’an bersama saudaranya Syeikh Zainuddin Ibnu Taimiyah sebanyak 80 kali khatam, yang berarti rata-rata setiap 10 hari khatam satu kali. Semoga Allah merahmati kita bersama mereka dan semoga kita bisa meneladani Rasulullah n, dan para sahabatnya, dan para ulama salaf dalam mencintai Al-Qur’an dan di dalam tata cara ibadah lainnya. Amin.

Penulis: (Abu Hamzah As-Sanuwi,LC, M.Ag)


Tentang bagaimana Al Qur’an itu diturunkan dari Lauh Mahfuzh maka ada beberapa pendapat dikalangan para ulama :
1. Al Qur’an diturunkan sekaligus ke langit dunia pada malam Lailatul Qodr kemudian diturunkan dengan cara berangsur-angsur sepanjang kehidupan Nabi saw setelah beliau diutus di Mekah dan Madinah. Banyak para ulama yang mengatakan bahwa pendapat inilah yang paling benar berdasarkan suatu riwayat dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas yang telah dikeluarkan oleh Hakim dan Baihaqi serta yang lainnya, dia mengatakan bahwa Al Qur’an diturunkan pada suatu malam ke langit dunia yaitu Lailatul Qodr kemudian diturunkan setelah itu selama dua puluh tahun kemudian dia membaca :
وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

Artinya : “Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik .” (QS. Al Furqon : 33)
وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً

Artinya : “Dan Al Quran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al Isra : 106)
Hakim dan Ibnu Abi Syaibah mengeluarkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan,”... maka Al Qur’an diletakkan di Baitul Izzah dari langit dunia lalu Jibril turun dengan membawanya kepada Nabi saw.’
Terdapat beberapa riwayat lain dari Ibnu Abbas dengan sanad-sanad yang tidak bermasalah yang menguatkan makna itu.
2. Al Qur’an diturunkan ke langit dunia pada 20 malam Lailatul Qodr atau 23 atau 20 atau 25—sebagaimana adanya perbedaan pendapat tentang lamanya Rasulullah saw menetap di Mekah setelah diutus—di setiap malam lailatul qodr diturunkan sejumlah tertentu sesuai dengan ketetapan Allah swt setiap tahunnya lalu turun setelah itu secara berangsur-angsur di seluruh tahunnya, demikianlah pendapat Fakhrur Rozi dan dia sendiri tidak berpendapat tentang apakah pendapat ini atau pendapat pertama yang lebih utama.
3. Al Qur’an diturunkan pertama kali pada malam Lailatul Qodr kemudian diturunkan setelah itu dengan cara berangsru-angsur pada waktu yang berbeda-beda, demikianlah pendapat Sya’bi.
4. Al Qur’an diturunkan dari Lauh Mahfuz sekaligus dan malaikat-malaikat penjaga menurunkannya secara berangsur-angsur kepada jibril selama 20 malam lalu Jibril menurunkannya secara berangsur-angsur kepada Nabi saw selama 20 tahun. Ini adalah pendapat yang aneh. (Fatawa al Azhar juz VII hal 469)
Adapun yang menjadi dasar kaum muslimin didalam memperingati Nuzulul Qur’an pada tanggal 17 Ramadhan dimungkinkan karena pada tanggal itu diturunkannya ayat pertama dari surat al Alaq kepada Nabi Muhammad saw,
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ﴿١﴾
خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ﴿٢﴾
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ﴿٣﴾
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ﴿٤﴾
عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ﴿٥
Artinya : ”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.” (QS. Al A’laq : 1 – 5)
Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir didalam kitabnya ”Al Bidayah wa an Nihayah” menukil dari al Waqidiy dari Abu Ja’far al Baqir yang mengatakan bahwa awal diturunkannya wahyu kepada Rasulullah saw adalah pada hari senin tanggal 17 Ramadhan akan tetapi ada juga yang mengatakan tanggal 24 Ramadhan.
Wallahu A’lam
 

Hikmah Nuzulul Qur'an



Hikmah Nuzulul Qur'an - Dalam pembahasan Nuzulul Qur'an menurut Berbagai Madzab kita telah mengetahui bahwa Al-Qur'an diturunkan ke Baitul Izzah secara langsung. Dari Baitul Izzah itulah, Al-Qur'an kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW.

Nuzulul Qur'an yang kemudian diperingati oleh sebagian kaum muslimin mengacu kepada tanggal pertama kali Al-Qur'an diturunkan kepada Rasulullah SAW di gua Hira. Jika sebagian besar umat Islam di Indonesia meyakini 17 Ramadhan sebagai tanggal Nuzulul Qur'an, Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury menyimpulkan Nuzulul Qur'an jatuh pada tanggal 21 Ramadhan.

Lepas dari berapa tanggal sebenarnya, Nuzulul Qur'an dalam arti turunnya Al-Qur'an kepada Rasulullah SAW secara bertahap atau berangsur-angsur itu memiliki beberapa hikmah sebagai berikut:

1. Meneguhkan hati Rasulullah dan para sahabat
Dakwah Rasulullah pada era makkiyah penuh dengan tribulasi berupa celaan, cemoohan, siksaan, bahkan upaya pembunuhan. Wahyu yang turun secara bertahap dari waktu ke waktu menguatkan hati Rasulullah dalam menapaki jalan yang sulit dan terjal itu.

Ketika kekejaman Quraisy semakin menjadi, Al-Qur'an menyuruh mereka bersabar seraya menceritakan kisah para nabi sebelumnya yang pada akhirnya memperoleh kemenangan dakwah. Maka, seperti yang dijelaskan Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury dalam Rakhiqul Makhtum, Al-Qur'an menjadi faktor peneguh mengapa kaum muslimin sangat kuat menghadapi cobaan dan tribulasi dakwah dalam periode Makkiyah.

Di era madaniyah, hikmah ini juga terus berlangsung. Ketika hendak menghadapi perang atau kesulitan, Al-Qur'an turun menguatkan Rasulullah dan kaum muslimin generasi pertama.

2. Tantangan dan Mukjizat
Orang-orang musyrik yang berada dalam kesesatan tidak henti-hentinya berupaya melemahkan kaum muslimin. Mereka sering mengajukan pertanyaan yang aneh-aneh dengan maksud melemahkan kaum muslimin. Pada saat itulah, kaum muslimin ditolong Allah dengan jawaban langsung dari-Nya melalui wahyu yang turun.

Selain itu, Al-Qur'an juga menantang langsung orang-orang kafir untuk membuat sesuatu yang semisal dengan Al-Qur'an. Nyanta, walaupun Al-Quran turun berangsur-angsur, tidak seluruhnya, toh mereka tidak mampu menjawab tantangan itu. Ini sekaligus menjadi bukti mukjizat Al-Qur'an yang tak tertandingi oleh siapapun.

3. Memudahkan Hafalan dan Pemahamannya
Dengan turunnya Al-Qur'an secara berangsur-angsur, maka para kaum muslimin menjadi lebih mudah menghafalkan dan memahaminya. Terlebih, ketika ayat itu turun dengan latar belakang peristiwa tertentu atau yang diistilahkan dengan asbabun nuzul, maka semakin kuatlah pemahaman para sahabat.


4. Relevan dengan Pentahapan Hukum dan Aplikasinya
Sayyid Quthb menyebut para sahabat dengan "Jailul Qur'anil farid" (generasi qur'ani yang unik). Diantara hal yang membedakan mereka dari generasi lainnya adalah sikap mereka terhadap Al-Qur'an. Begitu ayat turun dan memerintahkan sesuatu, mereka langsung mengerjakannya. Interaksi mereka dengan Al-Qur'an bagaikan para prajurit yang mendengar intruksi komandannya; langsung dikerjakan segera.

Diantara hal yang memudahkan bersegeranya para sahabat dalam menjalankan perintah Al-Qur'an adalah karena Al-Qur'an turun secara bertahap. Perubahan terhadap kebiasaan atau budaya yang mengakar di masyarakat Arab pun dilakukan melalui pentahapan hukum yang memungkinkan dilakukan karena turunnya Al-Qur'an secara berangsur-angsur ini. Misalnya khamr. Ia tidak langsung diharamkan secara mutlak, tetapi melalui pentahapan. Pertama, Al-Qur'an menyebut mudharatnya lebih besar dari manfaatnya (QS. 2 : 219). Kedua, Al-Qur'an melarang orang yang mabuk karena khamr dari shalat (QS. 4 : 43). Dan yang ketiga baru diharamkan secara tegas (QS. 5 : 90-91).

5. Menguatkan bahwa Al-Qur'an benar-benar dari Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji
Ketika Al-Qur'an turun berangsur-angsur dalam kurun lebih dari 22 tahun, kemudian menjadi rangkaian yang sangat cermat dan penuh makna, indah dan fasih gaya bahasanya, terjalin antara satu ayat dengan ayat lainnya bagaikan untaian mutiara, serta ketiadaan pertentangan di dalamnya, semakin menguatkan bahwa Al-Qur'an benar-benar kalam ilahi, Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

Demikianlah, sebagian hikmah Nuzulul Qur'an, diturunkannya Al-Qur'an secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW. Wallahu a'lam bish shawab. [Muchlisin. Maraji: : مابحث في علوم القران karya Syaikh Manna Al-Qaththan, رحيق المختوم karya Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury, dan معالم في الطريق karya Sayyid Quthb]
 

Saudaraku! Setiap tahun, dan tepatnya di bulan suci Ramadhan ini, banyak dari umat Islam di sekitar anda merayakan dan memperingati suatu kejadian bersejarah yang telah merubah arah sejarah umat manusia. Dan mungkin juga anda termasuk yang turut serta merayakan dan memperingati kejadian itu. Tahukah anda sejarah apakah yang saya maksudkan?
Kejadian sejarah itu adalah Nuzul Qur’an; diturunkannya Al Qur’an secara utuh dari Lauhul Mahfuzh di langit ketujuh, ke Baitul Izzah di langit dunia.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ. البقرة 185
“Bulan Ramadhan, bulan yang di padanya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (Qs. Al Baqarah: 185)
Peringatan terhadap turunnya Al Qur’an diwujudkan oleh masyarakat dalam berbagai acara, ada yang dengan mengadakan pengajian umum. Dari mereka ada yang merayakannya dengan pertunjukan pentas seni, semisal qasidah, anasyid dan lainnya. Dan tidak jarang pula yang memperingatinya dengan mengadakan pesta makan-makan.
Pernahkan anda bertanya: bagaimanakah cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabatnya dan juga ulama’ terdahulu setelah mereka memperingati kejadian ini?
Anda merasa ingin tahu apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Simaklah penuturan sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu tentang apa yang beliau lakukan.
كَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ . رواه البخاري
“Dahulu Malaikat Jibril senantiasa menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap malam Ramadhan, dan selanjutnya ia membaca Al Qur’an bersamanya.” (Riwayat Al Bukhari)
Demikianlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermudarasah, membaca Al Qur’an bersama Malaikat Jibril alaihissalam di luar shalat. Dan ternyata itu belum cukup bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau masih merasa perlu untuk membaca Al Qur’an dalam shalatnya. Anda ingin tahu, seberapa banyak dan seberapa lama beliau membaca Al Qur’an dalam shalatnya?
Simaklah penguturan sahabat Huzaifah radhiallahu ‘anhu tentang pengalaman beliau shalat tarawih bersama Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Pada suatu malam di bulan Ramadhan, aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam bilik yang terbuat dari pelepah kurma. Beliau memulai shalatnya dengan membaca takbir, selanjutnya beliau membaca doa:
الله أكبر ذُو الجَبَرُوت وَالْمَلَكُوتِ ، وَذُو الكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ
Selanjutnya beliau mulai membaca surat Al Baqarah, sayapun mengira bahwa beliau akan berhenti pada ayat ke-100, ternyata beliau terus membaca. Sayapun kembali mengira: beliau akan berhenti pada ayat ke-200, ternyata beliau terus membaca hingga akhir Al Baqarah, dan terus menyambungnya dengan surat Ali Imran hingga akhir. Kemudian beliau menyambungnya lagi dengan surat An Nisa’ hingga akhir surat. Setiap kali beliau melewati ayat yang mengandung hal-hal yang menakutkan, beliau berhenti sejenak untuk berdoa memohon perlindungan. …. Sejak usai dari shalat Isya’ pada awal malam hingga akhir malam, di saat Bilal memberi tahu beliau bahwa waktu shalat subuh telah tiba beliau hanya shalat empat rakaat.” (Riwayat Ahmad, dan Al Hakim)
Demikianlah cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingati turunnya Al Qur’an pada bulan ramadhan, membaca penuh dengan penghayatan akan maknanya. Tidak hanya berhenti pada mudarasah, beliau juga banyak membaca Al Qur’an pada shalat beliau, sampai-sampai pada satu raka’at saja, beliau membaca surat Al Baqarah, Ali Imran dan An Nisa’, atau sebanyak 5 juz lebih.
Inilah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan, dan demikianlah cara beliau memperingati turunnya Al Qur’an. Tidak ada pesta makan-makan, apalagi pentas seni, nyanyi-nyanyi, sandiwara atau tari menari.
Bandingkan apa yang beliau lakukan dengan yang anda lakukan. Sudahkah anda mengetahui betapa besar perbedaannya?
Anda juga ingin tahu apa yang dilakukan oleh para ulama’ terdahulu pada bulan Ramadhan?
Imam As Syafi’i pada setiap bulan ramadhan menghatamkan bacaan Al Qur’an sebanyak enam puluh (60) kali.
Anda merasa sebagai pengikut Imam As Syafi’i? Inilah teladan beliau, tidak ada pentas seni, pesta makan, akan tetapi seluruh waktu beliau diisi dengan membaca dan mentadaburi Al Qur’an.
Buktikanlah saudaraku bahwa anda adalah benar-benar penganut mazhab Syafi’i yang sebenarnya.
Al Aswab An Nakha’i setiap dua malam menghatamkan Al Qur’an.
Qatadah As Sadusi, memiliki kebiasaan setiap tujuh hari menghatamkan Al Qur’an sekali. Akan tetapi bila bulan Ramadhan telah tiba, beliau menghatamkannya setiap tiga malam sekali. Dan bila telah masuk sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau senantiasa menghatamkannya setiap malam sekali.
Demikianlah teladan ulama’ terdahulu dalam memperingati sejarah turunnya Al Qur’an. Tidak ada pesta ria, makan-makan, apa lagi na’uzubillah pentas seni, tari-menari, nyanyi-menyanyi.
Orang-orang seperti merekalah yang dimaksudkan oleh firman Allah Ta’ala:
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ .  الزمر23
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (Qs. Az Zumar: 23)
Dan oleh firman Allah Ta’ala:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ {2} الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ {3} أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ. الأنفال 2-4
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami berikan kepada mereka, Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia.” (Qs. Al Anfaal: 2-4)
Adapun kita, maka hanya kerahmatan Allah-lah yang kita nantikan. Betapa sering kita membaca, mendengar ayat-ayat Al Qur’an, akan tetapi semua itu seakan tidak meninggalkan bekas sedikitpun. Hati terasa kaku, dan keras, sekeras bebatuan. Iman tak kunjung bertambah, bahkan senantiasa terkikis oleh kemaksiatan. Dan kehidupan kita begitu jauh dari dzikir kepada Allah.
Saudaraku! Akankan kita terus menerus mengabadikan keadaan kita yang demikian ini? Mungkinkah kita akan senantiasa puas dengan sikap mendustai diri sendiri? Kita mengaku mencintai dan beriman kepada Al Qur’an, dan selanjutnya kecintaan dan keimanan itu diwujudkan dalam bentuk tarian, nyayian, pesta makan-makan?
Kapankah kita dapat membuktikan kecintaan dan keimanan kepada Al Qur’an dalam bentuk tadarus, mengkaji kandungan, dan mengamalkan nilai-nilainya?
Tidakkah saatnya telah tiba bagi kita untuk merubah peringatan Al Qur’an dari pentas seni menjadi bacaan dan penerapan kandungannya dalam kehidupan nyata?
***
Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri (lulusan Universitas Islam Madinah)
 
 
Jumat, 29 Juli 2011

APA HEBATNYA LAILATUL QODAR ???

Untuk menjadi renungan kita semua menghadapi Bulan Penuh berkah, yang telah sebelas bulan kita nanti, kami kutipkan isi khutbah Jum'at dari KH. Saifudin Amsir yang mudah-mudahan bisa menjadi motivasi buat kita dalam menjalankan ibadah puasa kita kali ini, Amin.... Ya Rabbal 'alamin

Umur umat nabi Muhammad secara umum hanya berkisar 60 – 70 tahun saja. Hal ini telah ditegaskan nabi dalam salah satu hadis beliau. Betapa pendeknya umur umat akhir zaman ini bila dibandingkan dengan nabi Adam dan anak cucu beliau yang bertubuh sangat besar, serta berusia rata-rata 1000 tahun. Begitu juga dibandingkan dengan umat nabi Nuh yang rata-rata usia mereka sekitar 900 tahun. Betapa singkatnya usia kita umat akhir zaman ini…..!
Jika usia kita sangat singkat, maka itu berarti amal sholih kita pun sangat sedikit pula. Marilah kita berhitung mengenai umur kita, berkenaan dengan amal yang kita telah buat. Sejak bayi sampai usia baligh, yang rata-rata ambil ukuran 14 tahun, itu berarti 14 tahun usia kita berlalu tanpa hitungan amal sholih ( sebab masih kanak-kanak ). Dan, jika setiap harinya kita rata-rata bekerja mencari nafkah untuk diri dan ahli keluarga selama delapan jam per-hari, maka sepertiga dari hari kita telah digunakan untuk bekerja. Jika usia kita 60 tahun, berarti selama hidup masa bekerja adalah 20 tahun lamanya. Kemudian jika kita tidur rata-rata delapan jam sehari, itu berarti sepertiga hari kita gunakan untuk tidur pula. Berarti masa 20 tahun usia kita habis untuk tidur saja.
Jika kita total amal kita selama hidup 60 tahun, maka hasil yang didapat adalah sebagai berikut:
- Masa kanak-kanak 14 tahun berlalu tanpa amal sholih yang berarti.
- Masa bekerja 20 tahun dari 60 tahun usia kita, juga berlalu tanpa amal sholih yang berarti pula.
- Sementara masa yang digunakan untuk tidur menghabiskan waktu 20 tahun lamanya.
Alangkah mengerikannya jika dihari kiamat nanti 54 tahun umur kita hanya berisi dalam buku catatan amal dengan amalan bermain-main masa kanak-kanak, bekerja dan tidur saja. Tinggal enam tahun sisa umur di luar tiga masa tersebut. Coba kita hitung berapa jam pula sehari yang kita gunakan untuk bermacet-macet dalam perjalanan, nonton tv, membaca Koran, bercanda dan bersenda gurau dengan keluarga serta teman-teman, buang air besar dan buang air kecil. Jangan-jangan total usia yang kita gunakan untuk beribadah dan berbakti kepada Allah paling-paling hanya dua tahun saja dari total usia kita 60 tahun itu.
Betapa malunya kita jika kelak di Padang Masyar setelah hari Kiamat, dibariskan bersebelahan dengan umat-umat dahulu yang umur mereka ratusan tahun, pasti mereka akan menghina kita karena merasa kita tidak pantas berdiri sejajar di sebelah mereka, sebab amal sholih kita sangat sedikit dibandingkan dengan amal mereka.
Hal ini pernah membuat Rasulullah risau dan menangis, seraya beliau berdoa kepada Allah: “Ya Allah janganlah engkau hinakan kami di hari kiamat”.
Atas doa dan kerisauan nabi dengan keadaan umat beliau, seperti yang digambarkan di atas, maka dengan kasih sayangnya Allah, umat akhir zaman ini diberi sebuah jalan pintas untuk mengalahkan umat-umat terdahulu dalam menumpuk amal dengan memberi umat ini sebuah malam yang disebut “Lailatul Qadar”. Malam qadar ini khusus diturunkan Allah setahun sekali dalam bulan Ramadhan yang agung saja. Hal ini termaktub dalam penggalan hadis nabi yang berbunyi: “Wahai sekalian manusia, telah datang kepadamu satu bulan yang sangat agung, yang penuh dengan keberkatan di mana di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan”. (HR. Ibnu Khuzaimah, Shoheh).
Betapa beruntungnya umat ini. Dengan rahmat Allah, jika umat ini beramal pada malam qadar itu, maka bayaran yang akan diperoleh adalah setara dengan amal seribu bulan, atau serupa dengan amal 83 tahun lamanya. Nah, andai saja seumur hidup seseorang dapat beramal pada malam qadar itu sebanyak sepuluh kali saja, maka orang itu tidak perlu lagi takut dihina umat terdahulu, sebab kadar amalnya setara dengan 830 tahun. Padahal umur orang itu yang sebenarnya hanya 60 tahun saja. Subhanallah……!
Pantaslah kiranya, nabi pernah bersabda bahwa tidak boleh umat manapun memasuki surga Allah, sebelum umat nabi Muhammad memasukinya terlebih dahulu. Tentu saja umat nabi yang dimaksud disini adalah umat yang seumur hidupnya taat kepada Allah, dan sering mendapatkan lailatul qadar sebagai “time turnel” , yakni jalan pintas amal yang dahsyat itu.
Untuk mendapatkan malam Qadar, nabi telah bersabda: “Carilah lailatul qadar itu pada malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari)
Dalam hadis yang lain dari Anas bin Malik dia telah berkata: “Ketika bulan Ramadhan tiba, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya telah tiba bulan ini di hadapan kamu, di mana di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang dari mendapatkan malam itu, maka sesungguhnya orang itu telah terhalang dari segala kebaikan. Dan tidaklah seseorang itu terhalang dari kebaikan kecuali dia benar-benar orang yang sial”. (HR. Ibnu Majah)
Semoga kita dapat menjaga malam yang penuh berkah itu dengan menjaga amal sholih kita selama bulan Ramadhan terutama pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan yang agung ini.
Wallahu A’lam

ILMU DAN CARA MENDAPATKANNYA

Ilmu dan Cara Mendapatkannya
Ilmu adalah pemberian Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-hamba yang diinginkan-Nya. Usaha manusia untuk mendapatkan ilmu diwajibkan oleh Allah dalam beberapa hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Artinya, manusia berdosa jika meninggalkan usaha dalam mendapatkan ilmu itu. Sebaliknya, jika usaha sudah dilakukan, sementara ilmu itu tidak juga dapat dikuasai, maka orang tersebut sudah terhindar dari kesalahan, sebab yang wajib adalah menuntut ilmu, bukan mendapatkannya. Adapun mendapatkan ilmu, semata-mata hanyalah karunia Allah saja.
Dengan demikian janganlah merasa kecewa dan putus asa jika seseorang sudah belajar suatu ilmu tertentu pada waktu yang lama, ternyata orang itu gagal menguasai ilmu tersebut. Ini bukan lagi salahnya, akan tetapi memang Allah tidak berkenan memberikan ilmu itu padanya.
Dalam kenyataan hidup ini banyak kita jumpai orang yang belajar membaca Al-Qur’an, misalnya, sudah bertahun-tahun melakukannya dengan sungguh-sungguh, namun ternyata hasil yang dia peroleh tidak sesuai harapan. Dia tetap saja tidak dapat mengucapkan huruf-hurufnya dengan fashih, dan banyak melakukan kesalahan dalam tajwid dan waqaf-ibtida’nya. Kenapa bisa terjadi? Tidak lain karena tidak diberikan oleh Allah. Hal ini sudah Allah jelaskan dalam surat Bani Israil ayat 85 :
Artinya: “Dan tidaklah kamu diberi ilmu pengetahuan kecuali sedikit saja”
Bagaimanakah cara mendapatkan ilmu itu?
Ilmu itu dapat diperoleh oleh seseorang dengan melalui beberapa jalan. Tidak seperti yang sering dianggap oleh kebanyakan orang bahwa satu-satunya jalan untuk mendapatkannya adalah dengan belajar dan menuntutnya . Di antara cara mendapatkan ilmu itu antara lain :
1. Belajar, dan menuntut ilmu tersebut dari orang lain.
Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
Artinya : “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan .”
Dalam hadits yang lain :
Artinya : “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah membuatnya berjalan di salah satu jalan menuju surga. Sesungguhnya para Malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha kepada pencari ilmu. Sesungguhnya orang berilmu dimintakan ampunan oleh makhluk yang berada dia langit dan bumi, serta ikan di tengah hari. Sesungguhnya keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada saat purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, namun mewariskan ilmu. Barangsiapa mendapatkannya, ia mendapatkan keuntungan yang besar.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ad Darimi)
2. Diajarkan langsung oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala tanpa diajarkan oleh orang lain.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Surat Al Baqarah ayat 31 :
“Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.”
3. Ilmu didapat dengan beramal.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
Artinya: “Barangsiapa mengamalkan satu ilmu yang telah diketahuinya, maka Allah mewariskan kepadanya ilmu-ilmu lain yang sebelumnya dia tidak tahu.” (HR. Abu Nu’aim).
Tidak heran jika banyak orang-orang sholih yang rajin beramal dianugerahi Allah banyak ilmu sebagai buah amal yang rajin dilakukannya bertahun-tahun. Ilmu yang tidak diperoleh oleh orang-orang yang banyak bicara dan berdebat dengan orang lain!
4. Ilmu didapat dengan bertaqwa.
Firman Allah Subhanallahu Wa Ta’ala Surat Al Baqarah ayat 282:
Artinya: “Dan bertaqwalah kepada Allah dan Allah akan mengajarimu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
5. Ilmu dapat diperoleh dengan diajarkan oleh makhluk lain
Di zaman dahulu ketika manusia baru pada generasi pertama, telah terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh Qabil, salah satu putera Nabi Adam Alaihissalam, terhadap saudara kandungnya yang sholih, Khabil. Setelah Qabil membunuh saudaranya itu, dia ketakutan dan kebingungan karena tidak tahu bagaimana caranya mengamankan tubuh saudaranya yang sudah menjadi mayat itu. Tiba-tiba dengan perintah Allah turunlah sepasang burung gagak yang saling tempur di depannya, kemudian salah seekor dari gagak itu mati. Kemudian gagak yang menang menggali lubang serta menguburkan gagak yang mati. Maka, terkesimalah Qabil dan dia pun mendapatkan ilmu dari burung itu. Kisah ini ada dalam Al-Qur’an surat al Maidah ayat 30-31.
Beberapa jurus-jurus bela diri terkenal dari mancanegara banyak yang dipelajari dari cara binatang berkelahi, seperti jurus kucing, jurus harimau, jurus bangau, jurus ular dan lain-lain sebagainya.
Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ada dikisahkan beberapa orang sahabat nabi, justru mendapatkan ilmu sebab diajari oleh syaitan. Kisah tersebut antara lain, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu telah berkata dia :
“Aku ditugaskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk menjaga hasil zakat pada bulan Ramadhan.Tiba-tiba datanglah seseorang kepadaku, dan mengambil sedikit dari zakat itu, maka aku menangkapnya seraya berkata, ”Kamu akan kuadukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” Orang itu berkata, “Biarkan aku. Sesungguhnya aku orang miskin, punya banyak anak, dan sangat membutuhkan. Maka aku pun melepaskannya. Pada keesokan harinya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepadaku, “Hai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu kemarin ?” Aku menjawab, “Ya Rasulullah, dia mengadukan kemiskinannya dan kelurganya yang banyak, maka aku kasihan dan aku membebaskannya.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya orang itu berdusta kepadamu, dan dia akan kembali.” Saya sadar bahwa orang itu akan kembali karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakannya. Maka aku pun mengintipnya. Ternyata ia datang untuk mengambil makanan. Maka aku menangkapnya lagi seraya berkata, “Sungguh aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” Dia berkata, “Lepaskan aku. Sesungguhnya aku sangat membutuhkan dan punya keluarga yang banyak, saya tidak akan kembali.” Maka aku pun mengasihaninya dan membebaskannya lagi. Keesokan harinya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepadaku, “Hai Abu Hurairah, apa yang telah dilakukan tawananmu kemarin ?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengadukan kemiskinan dan jumlah kelurganya yang banyak, maka aku pun kasihan dan membebaskannya lagi.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya dia berdusta kepada mu dan dia akan kembali.” Maka pada yang ketiga kalinya aku mengintipnya kembali. Dia datang mengambil makanan. Segera aku menangkapnya seraya aku berkata, “Sungguh aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah. Ini adalah yang ketiga kalinya kamu mengatakan bahwa kamu tidak akan kembali, namun nyatanya engkau kembali lagi.” Dia berkata, “Biarkan aku mengajari mu beberapa kalimat yang dengannya kamu akan beroleh manfaat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” Saya bertanya, “Kalimat apakah itu ?” Dia berkata, “Apabila kamu hendak tidur maka bacalah ayat kursi, “Allah, Tiada Tuhan melainkan Dia yang Hidup Kekal dan terus menerus mengurus makhluknya….” Dia membaca hingga akhir ayat. “Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan senantiasa menurunkan pelindung bagimu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi”. Maka aku pun membebaskannya. Keesokan hari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepadaku, “Apa yang telah dilakukan oleh tawanan mu kemarin?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dia telah mengajariku beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberiku manfaat, maka aku pun melepaskannya”. Beliau bertanya, “Kalimat apakah itu ?” Dia berkata kepadaku, ”Apabila kamu akan tidur, maka bacalah Ayat kursi dari awal hingga dia menyelesaikan ayat “Allah, tiada Tuhan melainkan Dia yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhluknya…“ Dia berkata kepadaku, “Allah akan senantiasa menurunkan pelindung bagimu dan syaitan tidak akan mendekatimu hingga pagi.” Para sahabat sangat menyukai kebaikan. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Dia telah berkata benar kepadamu, dan sebenarnya dia adalah pendusta. Hai Abu Hurairah, tahukah dengan siapa kamu berbicara selama tiga malam itu ?” Saya menjawab, “tidak.” Nabi bersabda, “Dia adalah Syaitan.” (HR. Bukhari) .
Hadits ini menunjukkan bahwa apabila Allah berkehendak, maka Dia mampu untuk memerintahkan siapa saja, bahkan termasuk syaitan sekalipun untuk memberikan ilmu dan pelajaran kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Kisah yang senada dengan kisah di atas pernah dialami oleh beberapa shahabat Nabi yang berbeda. Silakan ruju’ pada kitab Tafsir Ibnu Katsir keterangan pada ayat kursi, surat Al-Baqarah ayat 255.
Di dalam kitab Tanbihul Ghafilin ada lagi dikisahkan sebuah hadits tentang perjumpaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan Iblis la’natullah ‘alaihi, di mana ketika itu Iblis telah diperintahkan oleh Allah untuk mengajari Rasulullah tentang sepuluh jenis manusia sahabat Iblis dan sepuluh jenis yang menjadi musuhnya. Dialog antara Rasulullah dan Iblis itu menjadi pelajaran yang berharga bagi ummat Islam sampai sekarang ini.
Wallahu A’lam Bishshowab
Selasa, 26 Juli 2011

MEMBINA HATI


Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk membina akhlak ummat manusia, membersihkan hati mereka dan kemudian mengajarkan syari’at Islam kepada mereka, agar mereka muncul sebagai manusia yang unggul di dunia dan akhirat.
Baginda Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”
Untuk lebih jelasnya lagi marilah kita ikuti uraian Firman Allah berikut ini, yang artinya sebagai berikut :

“Dialah (Allah ) yang telah mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari kalangan mereka, untuk membacakan ayat-ayat Nya kepada mereka, dan membersihkan hati mereka. Dan (kemudian) mengajarkan kepada mereka kitab (Alqur’an) dan hikmah (sunnah___( yaitu ilmu, pen.). Dan sesungguhnya mereka sebelum itu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.”

Dari ayat di atas dapat kita ketahui bahwa tugas Rasul itu adalah :
1. Membacakan ayat-ayat Allah .
Pembacaan ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dilakukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan membuat halaqah-halaqah secara intensif. Dalam riwayat ada kurang lebih tiga tahun lamanya Baginda Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membuat halaqah tersebut di rumahnya Arqam bin Abil Arqam Radhiyallahu ‘anhu.
Dengan mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepada mereka, maka berubahlah hati para shahabat menjadi bersih dari segala noda-noda dan pengaruh syaitan, padahal sebelum itu mereka adalah para penyembah berhala yang amat rusak dan sesat hatinya.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tiap-tiap diri kamu masing-masing memiliki syaitan. Para sahabat bertanya: “Engkau juga, ya Rasulullah? Rasulullah bersabda: “Ya, aku juga. Akan tetapi Allah telah menolong saya atas syaitan itu, maka ia telah menyerah dan tidak menyeru kecuali hanya pada kebaikan belaka” (H.R. Muslim)
Memang salah satu fungsi Al Qur”an itu adalah mengobati hati.
Sesungguhnya hati yang bersih itu adalah fondasi bagi berdirinya iman pada seorang hamba, seperti fungsi fondasi pada sebuah bangunan. Adalah sangat mustahil sebuah bangunan itu dapat berdiri tanpa adanya fondasi terlebih dahulu. Semakin kuat dan kokoh sebuah fondasi itu, maka semakin besarlah kemungkinan bagi berdirinya bangunan gedung yang luas, kokoh dan menjulang tinggi.
2. Membersihkan hati.
Tugas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang kedua pada ayat di atas adalah membersihkan hati. Kata tazkiyah itu artinya adalah membersihkan. Dan Allah menggunakan kata ”Wa yuzakkihim” yaitu membersihkan hati mereka.
Bacaan ayat-ayat suci dari Nabi dan uraian–uraian Baginda Nabi kepada ummatnya yang beliau lakukan ketika itu telah mampu membuat hati mereka (para Sahabat) menjadi suci dan bersih.
Program pembersihan hati itu berlangsung di rumah Arqam bin Abil Arqam Radhiyallahu ‘anhu dan terus menerus berlanjut secara intensif selama Nabi dan para Sahabat itu tinggal di Makkah. Usaha atas penyucian hati itu berhasil dengan gilang gemilang, dan berhasil memusnahkan seluruh kabut kemusyrikan yang pernah mencengkeram hati mereka pada masa jahiliyah.
3. Mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (Sunnah) yaitu ILMU.
Pada poin yang ketiga ini Allah memberi kepada Rasul-Nya yang Mulia sebuah tugas lagi yaitu mengajarkan ilmu kepada ummatnya.
(Kata “yu’allim“ berarti dia mengajarkan).
Ini adalah dalil yang amat jelas dan nyata yang menunjukkan kepada kita bahwa ilmu itu baru dapat mudah masuk dan meresap kedalam hati manusia bila hatinya telah dibersihkan terlebih dahulu.
Bila ilmu masuk ke dalam hati yang bersih, maka jadilah ilmu itu tumbuh subur dan berkembang menjadi pedoman hidup bagi manusia itu. Sehingga memberi manfaatlah ilmunya itu bagi dirinya dan kemudian memberi manfaat kepada orang-orang lain pula.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berdo’a: “Kami berlindung kepadaMu (Allah) dari ilmu yang tidak memberi manfaat”.
Namun apabila ilmu itu dipaksa masuk ke dalam hati orang yang kotor, rusak dan berkarat, maka bagaimana mungkin ilmu itu dapat memberi manfaat pada orang tersebut?
Ilmu itu adalah nur dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan hati adalah tempatnya. Bila hati itu tertutup oleh berbagai daki dan kotoran, maka sangatlah mustahil cahaya dapat menembus keluar dari hati tersebut. Ibarat lampu sebuah mobil yang berkekuatan ratusan watt sekalipun, apabila kaca lampu itu dilumuri oleh aspal yang tebal, bagaimana mungkin cahayanya dapat menembus keluar dari lumuran aspal tersebut ?
Maka menjadi hilanglah fungsi lampu sebagai penerang bagi mobil itu. Dan bila di malam hari orang yang punya mobil tersebut tetap nekat untuk memakainya, maka sudah dapat diramalkan dia akan celaka di dalam perjalanannya.
Demikian juga orang yang hatinya berkarat oleh bermacam dosa dan ma’siat. Jika hatinya itu dimasuki oleh ilmu, meskipun ilmu itu adalah nur dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka bagaimana mungkin cahaya nur itu dapat menembus hatinya yang kotor dan berkerak? Sudah jelas manfaat terangnya nur ilmu pada dirinya akan hilang.
Dan jika dia tetap nekat berjalan dengan hatinya yang kotor dalam mengharungi kehidupan dunia yang gelap gulita ini, maka sudah dapat dipastikan perjalanannya akan sesat dan besar kemungkinan dirinya akan terperosok ke dalam jurang kehidupan.
Pada masa ini betapa banyak orang yang terjebak dalam menuntut ilmu. Mereka merasa asyik dengan manisnya pelajaran yang diterima dalam majelis ilmu tersebut sampai “mabuk” dengan ilmu itu. Namun sayang, mereka lupa membersihkan hati dari segala penyakit hati. Akhirnya hati mereka tetap kotor penuh dengan penyakit hati; iri dengki, ‘ujub, merasa diri paling benar dan lain-lain. Lalu ilmu tersebut tidak memberi manfaat kepada mereka karena terhijab oleh ma’siat hati.
Mereka mabuk dan tenggelam dengan pembahasan ilmu; fasal demi fasal, bab demi bab, judul demi judul, sehingga banyak diantara mereka tertipu syaitan.
Syaitan pun berkuasa di dalam hati mereka dan memasukkan racun berbisa, sehingga timbul anggapan bahwa dengan membahas-bahas ilmu tersebut mereka sudah menjadi “ahli ilmu” dan “pengamal ilmu”.
Mereka membahas seluk beluk shalat tahajjud sedetail-detailnya, sampai benar-benar mengerti bahkan tak jarang yang hafal pula dalil-dalilnya. Namun berapa banyak kah diantara mereka yang mau melakukan shalat tahajjud itu ?
Mereka membahas tentang bab sabar, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan sampai hafal dalil-dalilnya. Kemana-mana mereka pergi, kitab tentang bab sabar itu tak pernah lupa dibawa. Tiap ada kesempatan, buku itu ditelaahnya untuk mengulang kembali pelajaran sabar tersebut.
Sudahkah dia mendapatkan sifat sabar yang berbulan-bulan dibaca dan dipelajarinya itu ? Ternyata tidak ……!!
Tiba-tiba seekor kucing miliknya melompat ke atas meja makan, dan menghancurkan beberapa piring keramik kesayangannya. Dengan serta merta marahnya meledak, dan buku sabar yang ada di tangannya, melayang menghajar kucingnya itu...!
Suatu hari ada seorang gadis yang belajar di pesantren sedang pulang kampung, karena liburan sekolah selama satu bulan. Setiap pagi gadis tersebut ber-olahraga dengan memakai pakaian sport, celana pendek dan kaos t-shirt sambil berlari pagi keliling kampungnya.
Suatu pagi seorang ibu menyapa gadis itu, ketika dia baru saja selesai berlari dan sedang berjalan santai menuju ke rumahnya.
Ibu tersebut bertanya : “Dari mana nak…. ?”
“Olahraga, bu …!” Jawabnya.
“O…nggak ke pesantren ?”, tanya ibu itu.
“Lagi liburan, bu..!“ Jawabnya.
“Ibu boleh bertanya, nak….. ?” Kata ibu itu.
“Tentu dong….bu!”, katanya ramah.
“Apa ada dalilnya yang memerintahkan wajibnya menutup aurat, nak ?”, tanya sang ibu.
“Oh, ada bu…!!” Jawabnya lincah.
Kemudian dengan fasih, gadis pesantren tersebut membacakan Al Qur’an Surat Al Ahzab ayat 59, serta sekaligus membacakan arti ayat itu kepada ibu tersebut.
” Hai Nabi ! Katakanlah kepada istri-istrimu, dan anak-anak perempuanmu serta kepada perempuan-perempuan mu’min agar mereka menutup seluruh tubuhnya dengan jilbab…!!”
“Nah itu dia bu….dalilnya..!!” katanya tanpa ragu-ragu.
Lantas ibu itu berujar: ” OOO….. begitu ya, nak…!! Jadi kok kamu nggak pakai jilbab kalau hal itu wajib… ??”
“PAANNNAAAAAASSSSSS……” jawabnya, sambil kembali berlari menuju rumahnya.
Apakah gadis pesantren tersebut tidak berilmu…??!
Dia berilmu….
Apakah gadis pesantren itu tidak tahu hukumnya menutup aurat..?!
Dia tahu…
Lantas kenapa ilmu nya tidak menerangi kehidupannya..??!
Iman-nya lemah dan hatinya gelap..!!
Lantas kenapa..? Iman mereka “merlep” (lampu yang hampir mati___ (bhs medan, pen) dan kalah dengan nafsu.
Kedudukan iman dan ilmu seseorang diletakkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam hatinya. Jadi iman dan ilmu kedua-duanya bertempat di dalam hati manusia.
Inilah ajaran Islam. Dia berbeda dengan pendapat science, yang menganggap bahwa ilmu itu diletakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam otak manusia.
Iman seseorang itu dapat bertambah dan berkurang sesuai dengan perjuangan dan pengorbanannya dalam melaksanakan ajaran agama. Iman inilah yang berfungsi untuk mendorong seseorang mengerjakan amal-amal shalih. Bukan seperti yang dipahami oleh sebagian besar orang bahwa seseorang itu mau beramal adalah atas dorongan ilmunya. Ilmu tidak mendorong seseorang mau taat kepada Allah.
Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi namun keadaannya sangat memprihatinkan. Tidak mau beramal, bahkan rajin melakukan ma’siat. Hampir-hampir tidak punya malu dan sering mengeluarkan fatwa yang aneh-aneh.
Kenapa ada orang yang berilmu tinggi tetapi tidak punya malu ? Jawabnya tidak lain karena imannya lemah.
Hal tersebut sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Malu itu sebagian dari Iman”
Kedudukan iman, ilmu dan amal pada diri seseorang dapat digambarkan seperti lokomotif, rel dan gerbongnya. Lokomotif seumpama iman, rel seumpama ilmu dan gerbong-gerbongnya seumpama amal seseorang maka semakin banyaklah amal yang dapat diperbuatnya. pada diri seseorang itu. Semakin kuat power yang ada pada lokomotif tersebut, maka semakin banyaklah gerbong yang bisa ditariknya. Semakin kuat
Adapun fungsi rel adalah menyampaikan kereta api dan gerbong itu kepada tujuan yang ingin dituju. Itulah ilmu. Semakin tinggi ilmu yang ada pada seseorang yang beriman, maka semakin jauhlah perjalanan rohaninya menuju Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Iman saja tanpa adanya ilmu adalah sia-sia. Bagaimana mungkin lokomotif dapat menarik gerbong jika tidak ada relnya. Tetapi apalah artinya rel yang panjang tanpa adanya lokomotif dan gerbong, yang senantiasa berjalan di atasnya.
Ilmu yang tidak dipenuhi oleh iman dan amal, ibarat rel yang panjang tetapi tidak pernah dilalui oleh sebuah kereta api pun. Apakah yang akan terjadi dengan rel kereta api itu …. ? Dia akan berkarat dan wilayah rel itu akan ditumbuhi oleh semak belukar yang penuh dengan binatang-binatang berbisa yang membahayakan.
Di zaman ini banyak kita lihat orang-orang yang memiliki ilmu agama, termasyhur di tengah masyarakat sebagai kiyai namun selalu muncul dari mulutnya fatwa-fatwa ganjil dan aneh. Mereka dengan tidak tahu malu dan tanpa rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala berani menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.
Kita berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari keadaan sedemikian…!
Karena iman dan ilmu itu diletakkan Allah di dalam hati, maka jelaslah bagi kita bagaimana pentingnya menjaga hati agar senantiasa bersih-bersinar. Sehingga dengan demikian sinar iman dan ilmu itu menjadi kuat dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Namun demikian, kita tidak boleh menafikan keberadaan ilmu. Sebab, Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam amat memuji tentang keberadaan ilmu. Tetapi sebaliknya, kita juga tidak boleh menafikan pentingnya iman serta perjuangan untuk memelihara dan menguatkan keberadaan iman tersebut.
Begitu juga hati, sebagai tempat adanya iman dan ilmu tentu amat perlu untuk dipelihara dan dijaga agar iman dan ilmu yang ada di dalamnya itu dapat berfungsi secara maksimal, sehingga akan mapu menghasilkan amal yang baik, benar dan maksimal.
Wallahu A'lam Bishshowab

Selasa, 19 Juli 2011

PENSI


My First Son

My First Son
Nabil Rizki Hamidi