KELUARGA SAKINAH
Hidup adalah perjuangan dan perjuangan memerlukan bekal, dan bekal terbaik adalah ILMU dan untuk pengenalan dasar agama, kutitipkan Buah hatiku di SDI IBNU HAJAR
My family
2
My second son
Muh. Zaini Al Hadi
Nabil in Action
Happy and Sad
Pada pernikahan Eni
ketika anak masih 1
Lorem Ipsum Dolor
Marcadores
- ALBUM (1)
my flash
Labels
- ALBUM (1)
Feedjit
http://www.google.com/intl/en/images/logos/translate_logo_sm.png
http://sdiibnuhajar.blogspot.com/. Diberdayakan oleh Blogger.
About Me
- Abdullah hadi
- Saya alumni SDN Pelandakan 2 Cirebon, SMPN Cirebon Selatan, Ponpes Al Hayat Baru Miftahul muta'alimin Babakan Ciwaringin Cirebon, Darussalam Gontor, ISID Gontor, dan masih meneruskan Kuliah yang tertunda
Pengikut
Jumat, 29 Juli 2011
APA HEBATNYA LAILATUL QODAR ???
Untuk menjadi renungan kita semua menghadapi Bulan Penuh berkah, yang telah sebelas bulan kita nanti, kami kutipkan isi khutbah Jum'at dari KH. Saifudin Amsir yang mudah-mudahan bisa menjadi motivasi buat kita dalam menjalankan ibadah puasa kita kali ini, Amin.... Ya Rabbal 'alamin
Umur umat nabi Muhammad secara umum hanya berkisar 60 – 70 tahun saja. Hal ini telah ditegaskan nabi dalam salah satu hadis beliau. Betapa pendeknya umur umat akhir zaman ini bila dibandingkan dengan nabi Adam dan anak cucu beliau yang bertubuh sangat besar, serta berusia rata-rata 1000 tahun. Begitu juga dibandingkan dengan umat nabi Nuh yang rata-rata usia mereka sekitar 900 tahun. Betapa singkatnya usia kita umat akhir zaman ini…..!
Jika usia kita sangat singkat, maka itu berarti amal sholih kita pun sangat sedikit pula. Marilah kita berhitung mengenai umur kita, berkenaan dengan amal yang kita telah buat. Sejak bayi sampai usia baligh, yang rata-rata ambil ukuran 14 tahun, itu berarti 14 tahun usia kita berlalu tanpa hitungan amal sholih ( sebab masih kanak-kanak ). Dan, jika setiap harinya kita rata-rata bekerja mencari nafkah untuk diri dan ahli keluarga selama delapan jam per-hari, maka sepertiga dari hari kita telah digunakan untuk bekerja. Jika usia kita 60 tahun, berarti selama hidup masa bekerja adalah 20 tahun lamanya. Kemudian jika kita tidur rata-rata delapan jam sehari, itu berarti sepertiga hari kita gunakan untuk tidur pula. Berarti masa 20 tahun usia kita habis untuk tidur saja.
Jika kita total amal kita selama hidup 60 tahun, maka hasil yang didapat adalah sebagai berikut:
- Masa kanak-kanak 14 tahun berlalu tanpa amal sholih yang berarti.
- Masa bekerja 20 tahun dari 60 tahun usia kita, juga berlalu tanpa amal sholih yang berarti pula.
- Sementara masa yang digunakan untuk tidur menghabiskan waktu 20 tahun lamanya.
Alangkah mengerikannya jika dihari kiamat nanti 54 tahun umur kita hanya berisi dalam buku catatan amal dengan amalan bermain-main masa kanak-kanak, bekerja dan tidur saja. Tinggal enam tahun sisa umur di luar tiga masa tersebut. Coba kita hitung berapa jam pula sehari yang kita gunakan untuk bermacet-macet dalam perjalanan, nonton tv, membaca Koran, bercanda dan bersenda gurau dengan keluarga serta teman-teman, buang air besar dan buang air kecil. Jangan-jangan total usia yang kita gunakan untuk beribadah dan berbakti kepada Allah paling-paling hanya dua tahun saja dari total usia kita 60 tahun itu.
Betapa malunya kita jika kelak di Padang Masyar setelah hari Kiamat, dibariskan bersebelahan dengan umat-umat dahulu yang umur mereka ratusan tahun, pasti mereka akan menghina kita karena merasa kita tidak pantas berdiri sejajar di sebelah mereka, sebab amal sholih kita sangat sedikit dibandingkan dengan amal mereka.
Hal ini pernah membuat Rasulullah risau dan menangis, seraya beliau berdoa kepada Allah: “Ya Allah janganlah engkau hinakan kami di hari kiamat”.
Atas doa dan kerisauan nabi dengan keadaan umat beliau, seperti yang digambarkan di atas, maka dengan kasih sayangnya Allah, umat akhir zaman ini diberi sebuah jalan pintas untuk mengalahkan umat-umat terdahulu dalam menumpuk amal dengan memberi umat ini sebuah malam yang disebut “Lailatul Qadar”. Malam qadar ini khusus diturunkan Allah setahun sekali dalam bulan Ramadhan yang agung saja. Hal ini termaktub dalam penggalan hadis nabi yang berbunyi: “Wahai sekalian manusia, telah datang kepadamu satu bulan yang sangat agung, yang penuh dengan keberkatan di mana di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan”. (HR. Ibnu Khuzaimah, Shoheh).
Betapa beruntungnya umat ini. Dengan rahmat Allah, jika umat ini beramal pada malam qadar itu, maka bayaran yang akan diperoleh adalah setara dengan amal seribu bulan, atau serupa dengan amal 83 tahun lamanya. Nah, andai saja seumur hidup seseorang dapat beramal pada malam qadar itu sebanyak sepuluh kali saja, maka orang itu tidak perlu lagi takut dihina umat terdahulu, sebab kadar amalnya setara dengan 830 tahun. Padahal umur orang itu yang sebenarnya hanya 60 tahun saja. Subhanallah……!
Pantaslah kiranya, nabi pernah bersabda bahwa tidak boleh umat manapun memasuki surga Allah, sebelum umat nabi Muhammad memasukinya terlebih dahulu. Tentu saja umat nabi yang dimaksud disini adalah umat yang seumur hidupnya taat kepada Allah, dan sering mendapatkan lailatul qadar sebagai “time turnel” , yakni jalan pintas amal yang dahsyat itu.
Untuk mendapatkan malam Qadar, nabi telah bersabda: “Carilah lailatul qadar itu pada malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari)
Dalam hadis yang lain dari Anas bin Malik dia telah berkata: “Ketika bulan Ramadhan tiba, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya telah tiba bulan ini di hadapan kamu, di mana di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang dari mendapatkan malam itu, maka sesungguhnya orang itu telah terhalang dari segala kebaikan. Dan tidaklah seseorang itu terhalang dari kebaikan kecuali dia benar-benar orang yang sial”. (HR. Ibnu Majah)
Semoga kita dapat menjaga malam yang penuh berkah itu dengan menjaga amal sholih kita selama bulan Ramadhan terutama pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan yang agung ini.
Wallahu A’lam
ILMU DAN CARA MENDAPATKANNYA
Ilmu dan Cara Mendapatkannya
Ilmu adalah pemberian Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-hamba yang diinginkan-Nya. Usaha manusia untuk mendapatkan ilmu diwajibkan oleh Allah dalam beberapa hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Artinya, manusia berdosa jika meninggalkan usaha dalam mendapatkan ilmu itu. Sebaliknya, jika usaha sudah dilakukan, sementara ilmu itu tidak juga dapat dikuasai, maka orang tersebut sudah terhindar dari kesalahan, sebab yang wajib adalah menuntut ilmu, bukan mendapatkannya. Adapun mendapatkan ilmu, semata-mata hanyalah karunia Allah saja.
Dengan demikian janganlah merasa kecewa dan putus asa jika seseorang sudah belajar suatu ilmu tertentu pada waktu yang lama, ternyata orang itu gagal menguasai ilmu tersebut. Ini bukan lagi salahnya, akan tetapi memang Allah tidak berkenan memberikan ilmu itu padanya.
Dalam kenyataan hidup ini banyak kita jumpai orang yang belajar membaca Al-Qur’an, misalnya, sudah bertahun-tahun melakukannya dengan sungguh-sungguh, namun ternyata hasil yang dia peroleh tidak sesuai harapan. Dia tetap saja tidak dapat mengucapkan huruf-hurufnya dengan fashih, dan banyak melakukan kesalahan dalam tajwid dan waqaf-ibtida’nya. Kenapa bisa terjadi? Tidak lain karena tidak diberikan oleh Allah. Hal ini sudah Allah jelaskan dalam surat Bani Israil ayat 85 :
Artinya: “Dan tidaklah kamu diberi ilmu pengetahuan kecuali sedikit saja”
Bagaimanakah cara mendapatkan ilmu itu?
Ilmu itu dapat diperoleh oleh seseorang dengan melalui beberapa jalan. Tidak seperti yang sering dianggap oleh kebanyakan orang bahwa satu-satunya jalan untuk mendapatkannya adalah dengan belajar dan menuntutnya . Di antara cara mendapatkan ilmu itu antara lain :
1. Belajar, dan menuntut ilmu tersebut dari orang lain.
Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
Artinya : “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan .”
Dalam hadits yang lain :
Artinya : “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah membuatnya berjalan di salah satu jalan menuju surga. Sesungguhnya para Malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha kepada pencari ilmu. Sesungguhnya orang berilmu dimintakan ampunan oleh makhluk yang berada dia langit dan bumi, serta ikan di tengah hari. Sesungguhnya keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada saat purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, namun mewariskan ilmu. Barangsiapa mendapatkannya, ia mendapatkan keuntungan yang besar.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ad Darimi)
2. Diajarkan langsung oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala tanpa diajarkan oleh orang lain.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Surat Al Baqarah ayat 31 :
“Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.”
3. Ilmu didapat dengan beramal.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
Artinya: “Barangsiapa mengamalkan satu ilmu yang telah diketahuinya, maka Allah mewariskan kepadanya ilmu-ilmu lain yang sebelumnya dia tidak tahu.” (HR. Abu Nu’aim).
Tidak heran jika banyak orang-orang sholih yang rajin beramal dianugerahi Allah banyak ilmu sebagai buah amal yang rajin dilakukannya bertahun-tahun. Ilmu yang tidak diperoleh oleh orang-orang yang banyak bicara dan berdebat dengan orang lain!
4. Ilmu didapat dengan bertaqwa.
Firman Allah Subhanallahu Wa Ta’ala Surat Al Baqarah ayat 282:
Artinya: “Dan bertaqwalah kepada Allah dan Allah akan mengajarimu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
5. Ilmu dapat diperoleh dengan diajarkan oleh makhluk lain
Di zaman dahulu ketika manusia baru pada generasi pertama, telah terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh Qabil, salah satu putera Nabi Adam Alaihissalam, terhadap saudara kandungnya yang sholih, Khabil. Setelah Qabil membunuh saudaranya itu, dia ketakutan dan kebingungan karena tidak tahu bagaimana caranya mengamankan tubuh saudaranya yang sudah menjadi mayat itu. Tiba-tiba dengan perintah Allah turunlah sepasang burung gagak yang saling tempur di depannya, kemudian salah seekor dari gagak itu mati. Kemudian gagak yang menang menggali lubang serta menguburkan gagak yang mati. Maka, terkesimalah Qabil dan dia pun mendapatkan ilmu dari burung itu. Kisah ini ada dalam Al-Qur’an surat al Maidah ayat 30-31.
Beberapa jurus-jurus bela diri terkenal dari mancanegara banyak yang dipelajari dari cara binatang berkelahi, seperti jurus kucing, jurus harimau, jurus bangau, jurus ular dan lain-lain sebagainya.
Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ada dikisahkan beberapa orang sahabat nabi, justru mendapatkan ilmu sebab diajari oleh syaitan. Kisah tersebut antara lain, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu telah berkata dia :
“Aku ditugaskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk menjaga hasil zakat pada bulan Ramadhan.Tiba-tiba datanglah seseorang kepadaku, dan mengambil sedikit dari zakat itu, maka aku menangkapnya seraya berkata, ”Kamu akan kuadukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” Orang itu berkata, “Biarkan aku. Sesungguhnya aku orang miskin, punya banyak anak, dan sangat membutuhkan. Maka aku pun melepaskannya. Pada keesokan harinya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepadaku, “Hai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu kemarin ?” Aku menjawab, “Ya Rasulullah, dia mengadukan kemiskinannya dan kelurganya yang banyak, maka aku kasihan dan aku membebaskannya.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya orang itu berdusta kepadamu, dan dia akan kembali.” Saya sadar bahwa orang itu akan kembali karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakannya. Maka aku pun mengintipnya. Ternyata ia datang untuk mengambil makanan. Maka aku menangkapnya lagi seraya berkata, “Sungguh aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” Dia berkata, “Lepaskan aku. Sesungguhnya aku sangat membutuhkan dan punya keluarga yang banyak, saya tidak akan kembali.” Maka aku pun mengasihaninya dan membebaskannya lagi. Keesokan harinya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepadaku, “Hai Abu Hurairah, apa yang telah dilakukan tawananmu kemarin ?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengadukan kemiskinan dan jumlah kelurganya yang banyak, maka aku pun kasihan dan membebaskannya lagi.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya dia berdusta kepada mu dan dia akan kembali.” Maka pada yang ketiga kalinya aku mengintipnya kembali. Dia datang mengambil makanan. Segera aku menangkapnya seraya aku berkata, “Sungguh aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah. Ini adalah yang ketiga kalinya kamu mengatakan bahwa kamu tidak akan kembali, namun nyatanya engkau kembali lagi.” Dia berkata, “Biarkan aku mengajari mu beberapa kalimat yang dengannya kamu akan beroleh manfaat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” Saya bertanya, “Kalimat apakah itu ?” Dia berkata, “Apabila kamu hendak tidur maka bacalah ayat kursi, “Allah, Tiada Tuhan melainkan Dia yang Hidup Kekal dan terus menerus mengurus makhluknya….” Dia membaca hingga akhir ayat. “Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan senantiasa menurunkan pelindung bagimu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi”. Maka aku pun membebaskannya. Keesokan hari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepadaku, “Apa yang telah dilakukan oleh tawanan mu kemarin?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dia telah mengajariku beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberiku manfaat, maka aku pun melepaskannya”. Beliau bertanya, “Kalimat apakah itu ?” Dia berkata kepadaku, ”Apabila kamu akan tidur, maka bacalah Ayat kursi dari awal hingga dia menyelesaikan ayat “Allah, tiada Tuhan melainkan Dia yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhluknya…“ Dia berkata kepadaku, “Allah akan senantiasa menurunkan pelindung bagimu dan syaitan tidak akan mendekatimu hingga pagi.” Para sahabat sangat menyukai kebaikan. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Dia telah berkata benar kepadamu, dan sebenarnya dia adalah pendusta. Hai Abu Hurairah, tahukah dengan siapa kamu berbicara selama tiga malam itu ?” Saya menjawab, “tidak.” Nabi bersabda, “Dia adalah Syaitan.” (HR. Bukhari) .
Hadits ini menunjukkan bahwa apabila Allah berkehendak, maka Dia mampu untuk memerintahkan siapa saja, bahkan termasuk syaitan sekalipun untuk memberikan ilmu dan pelajaran kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Kisah yang senada dengan kisah di atas pernah dialami oleh beberapa shahabat Nabi yang berbeda. Silakan ruju’ pada kitab Tafsir Ibnu Katsir keterangan pada ayat kursi, surat Al-Baqarah ayat 255.
Di dalam kitab Tanbihul Ghafilin ada lagi dikisahkan sebuah hadits tentang perjumpaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan Iblis la’natullah ‘alaihi, di mana ketika itu Iblis telah diperintahkan oleh Allah untuk mengajari Rasulullah tentang sepuluh jenis manusia sahabat Iblis dan sepuluh jenis yang menjadi musuhnya. Dialog antara Rasulullah dan Iblis itu menjadi pelajaran yang berharga bagi ummat Islam sampai sekarang ini.
Wallahu A’lam Bishshowab
Ilmu adalah pemberian Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-hamba yang diinginkan-Nya. Usaha manusia untuk mendapatkan ilmu diwajibkan oleh Allah dalam beberapa hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Artinya, manusia berdosa jika meninggalkan usaha dalam mendapatkan ilmu itu. Sebaliknya, jika usaha sudah dilakukan, sementara ilmu itu tidak juga dapat dikuasai, maka orang tersebut sudah terhindar dari kesalahan, sebab yang wajib adalah menuntut ilmu, bukan mendapatkannya. Adapun mendapatkan ilmu, semata-mata hanyalah karunia Allah saja.
Dengan demikian janganlah merasa kecewa dan putus asa jika seseorang sudah belajar suatu ilmu tertentu pada waktu yang lama, ternyata orang itu gagal menguasai ilmu tersebut. Ini bukan lagi salahnya, akan tetapi memang Allah tidak berkenan memberikan ilmu itu padanya.
Dalam kenyataan hidup ini banyak kita jumpai orang yang belajar membaca Al-Qur’an, misalnya, sudah bertahun-tahun melakukannya dengan sungguh-sungguh, namun ternyata hasil yang dia peroleh tidak sesuai harapan. Dia tetap saja tidak dapat mengucapkan huruf-hurufnya dengan fashih, dan banyak melakukan kesalahan dalam tajwid dan waqaf-ibtida’nya. Kenapa bisa terjadi? Tidak lain karena tidak diberikan oleh Allah. Hal ini sudah Allah jelaskan dalam surat Bani Israil ayat 85 :
Artinya: “Dan tidaklah kamu diberi ilmu pengetahuan kecuali sedikit saja”
Bagaimanakah cara mendapatkan ilmu itu?
Ilmu itu dapat diperoleh oleh seseorang dengan melalui beberapa jalan. Tidak seperti yang sering dianggap oleh kebanyakan orang bahwa satu-satunya jalan untuk mendapatkannya adalah dengan belajar dan menuntutnya . Di antara cara mendapatkan ilmu itu antara lain :
1. Belajar, dan menuntut ilmu tersebut dari orang lain.
Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
Artinya : “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan .”
Dalam hadits yang lain :
Artinya : “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah membuatnya berjalan di salah satu jalan menuju surga. Sesungguhnya para Malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha kepada pencari ilmu. Sesungguhnya orang berilmu dimintakan ampunan oleh makhluk yang berada dia langit dan bumi, serta ikan di tengah hari. Sesungguhnya keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada saat purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, namun mewariskan ilmu. Barangsiapa mendapatkannya, ia mendapatkan keuntungan yang besar.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ad Darimi)
2. Diajarkan langsung oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala tanpa diajarkan oleh orang lain.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Surat Al Baqarah ayat 31 :
“Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.”
3. Ilmu didapat dengan beramal.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
Artinya: “Barangsiapa mengamalkan satu ilmu yang telah diketahuinya, maka Allah mewariskan kepadanya ilmu-ilmu lain yang sebelumnya dia tidak tahu.” (HR. Abu Nu’aim).
Tidak heran jika banyak orang-orang sholih yang rajin beramal dianugerahi Allah banyak ilmu sebagai buah amal yang rajin dilakukannya bertahun-tahun. Ilmu yang tidak diperoleh oleh orang-orang yang banyak bicara dan berdebat dengan orang lain!
4. Ilmu didapat dengan bertaqwa.
Firman Allah Subhanallahu Wa Ta’ala Surat Al Baqarah ayat 282:
Artinya: “Dan bertaqwalah kepada Allah dan Allah akan mengajarimu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
5. Ilmu dapat diperoleh dengan diajarkan oleh makhluk lain
Di zaman dahulu ketika manusia baru pada generasi pertama, telah terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh Qabil, salah satu putera Nabi Adam Alaihissalam, terhadap saudara kandungnya yang sholih, Khabil. Setelah Qabil membunuh saudaranya itu, dia ketakutan dan kebingungan karena tidak tahu bagaimana caranya mengamankan tubuh saudaranya yang sudah menjadi mayat itu. Tiba-tiba dengan perintah Allah turunlah sepasang burung gagak yang saling tempur di depannya, kemudian salah seekor dari gagak itu mati. Kemudian gagak yang menang menggali lubang serta menguburkan gagak yang mati. Maka, terkesimalah Qabil dan dia pun mendapatkan ilmu dari burung itu. Kisah ini ada dalam Al-Qur’an surat al Maidah ayat 30-31.
Beberapa jurus-jurus bela diri terkenal dari mancanegara banyak yang dipelajari dari cara binatang berkelahi, seperti jurus kucing, jurus harimau, jurus bangau, jurus ular dan lain-lain sebagainya.
Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ada dikisahkan beberapa orang sahabat nabi, justru mendapatkan ilmu sebab diajari oleh syaitan. Kisah tersebut antara lain, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu telah berkata dia :
“Aku ditugaskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk menjaga hasil zakat pada bulan Ramadhan.Tiba-tiba datanglah seseorang kepadaku, dan mengambil sedikit dari zakat itu, maka aku menangkapnya seraya berkata, ”Kamu akan kuadukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” Orang itu berkata, “Biarkan aku. Sesungguhnya aku orang miskin, punya banyak anak, dan sangat membutuhkan. Maka aku pun melepaskannya. Pada keesokan harinya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepadaku, “Hai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu kemarin ?” Aku menjawab, “Ya Rasulullah, dia mengadukan kemiskinannya dan kelurganya yang banyak, maka aku kasihan dan aku membebaskannya.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya orang itu berdusta kepadamu, dan dia akan kembali.” Saya sadar bahwa orang itu akan kembali karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakannya. Maka aku pun mengintipnya. Ternyata ia datang untuk mengambil makanan. Maka aku menangkapnya lagi seraya berkata, “Sungguh aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” Dia berkata, “Lepaskan aku. Sesungguhnya aku sangat membutuhkan dan punya keluarga yang banyak, saya tidak akan kembali.” Maka aku pun mengasihaninya dan membebaskannya lagi. Keesokan harinya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepadaku, “Hai Abu Hurairah, apa yang telah dilakukan tawananmu kemarin ?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengadukan kemiskinan dan jumlah kelurganya yang banyak, maka aku pun kasihan dan membebaskannya lagi.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya dia berdusta kepada mu dan dia akan kembali.” Maka pada yang ketiga kalinya aku mengintipnya kembali. Dia datang mengambil makanan. Segera aku menangkapnya seraya aku berkata, “Sungguh aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah. Ini adalah yang ketiga kalinya kamu mengatakan bahwa kamu tidak akan kembali, namun nyatanya engkau kembali lagi.” Dia berkata, “Biarkan aku mengajari mu beberapa kalimat yang dengannya kamu akan beroleh manfaat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” Saya bertanya, “Kalimat apakah itu ?” Dia berkata, “Apabila kamu hendak tidur maka bacalah ayat kursi, “Allah, Tiada Tuhan melainkan Dia yang Hidup Kekal dan terus menerus mengurus makhluknya….” Dia membaca hingga akhir ayat. “Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan senantiasa menurunkan pelindung bagimu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi”. Maka aku pun membebaskannya. Keesokan hari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepadaku, “Apa yang telah dilakukan oleh tawanan mu kemarin?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dia telah mengajariku beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberiku manfaat, maka aku pun melepaskannya”. Beliau bertanya, “Kalimat apakah itu ?” Dia berkata kepadaku, ”Apabila kamu akan tidur, maka bacalah Ayat kursi dari awal hingga dia menyelesaikan ayat “Allah, tiada Tuhan melainkan Dia yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhluknya…“ Dia berkata kepadaku, “Allah akan senantiasa menurunkan pelindung bagimu dan syaitan tidak akan mendekatimu hingga pagi.” Para sahabat sangat menyukai kebaikan. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Dia telah berkata benar kepadamu, dan sebenarnya dia adalah pendusta. Hai Abu Hurairah, tahukah dengan siapa kamu berbicara selama tiga malam itu ?” Saya menjawab, “tidak.” Nabi bersabda, “Dia adalah Syaitan.” (HR. Bukhari) .
Hadits ini menunjukkan bahwa apabila Allah berkehendak, maka Dia mampu untuk memerintahkan siapa saja, bahkan termasuk syaitan sekalipun untuk memberikan ilmu dan pelajaran kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Kisah yang senada dengan kisah di atas pernah dialami oleh beberapa shahabat Nabi yang berbeda. Silakan ruju’ pada kitab Tafsir Ibnu Katsir keterangan pada ayat kursi, surat Al-Baqarah ayat 255.
Di dalam kitab Tanbihul Ghafilin ada lagi dikisahkan sebuah hadits tentang perjumpaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan Iblis la’natullah ‘alaihi, di mana ketika itu Iblis telah diperintahkan oleh Allah untuk mengajari Rasulullah tentang sepuluh jenis manusia sahabat Iblis dan sepuluh jenis yang menjadi musuhnya. Dialog antara Rasulullah dan Iblis itu menjadi pelajaran yang berharga bagi ummat Islam sampai sekarang ini.
Wallahu A’lam Bishshowab
Selasa, 26 Juli 2011
MEMBINA HATI
Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk membina akhlak ummat manusia, membersihkan hati mereka dan kemudian mengajarkan syari’at Islam kepada mereka, agar mereka muncul sebagai manusia yang unggul di dunia dan akhirat.
Baginda Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”
Untuk lebih jelasnya lagi marilah kita ikuti uraian Firman Allah berikut ini, yang artinya sebagai berikut :
“Dialah (Allah ) yang telah mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari kalangan mereka, untuk membacakan ayat-ayat Nya kepada mereka, dan membersihkan hati mereka. Dan (kemudian) mengajarkan kepada mereka kitab (Alqur’an) dan hikmah (sunnah___( yaitu ilmu, pen.). Dan sesungguhnya mereka sebelum itu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.”
Dari ayat di atas dapat kita ketahui bahwa tugas Rasul itu adalah :
1. Membacakan ayat-ayat Allah .
Pembacaan ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dilakukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan membuat halaqah-halaqah secara intensif. Dalam riwayat ada kurang lebih tiga tahun lamanya Baginda Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membuat halaqah tersebut di rumahnya Arqam bin Abil Arqam Radhiyallahu ‘anhu.
Dengan mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepada mereka, maka berubahlah hati para shahabat menjadi bersih dari segala noda-noda dan pengaruh syaitan, padahal sebelum itu mereka adalah para penyembah berhala yang amat rusak dan sesat hatinya.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tiap-tiap diri kamu masing-masing memiliki syaitan. Para sahabat bertanya: “Engkau juga, ya Rasulullah? Rasulullah bersabda: “Ya, aku juga. Akan tetapi Allah telah menolong saya atas syaitan itu, maka ia telah menyerah dan tidak menyeru kecuali hanya pada kebaikan belaka” (H.R. Muslim)
Memang salah satu fungsi Al Qur”an itu adalah mengobati hati.
Sesungguhnya hati yang bersih itu adalah fondasi bagi berdirinya iman pada seorang hamba, seperti fungsi fondasi pada sebuah bangunan. Adalah sangat mustahil sebuah bangunan itu dapat berdiri tanpa adanya fondasi terlebih dahulu. Semakin kuat dan kokoh sebuah fondasi itu, maka semakin besarlah kemungkinan bagi berdirinya bangunan gedung yang luas, kokoh dan menjulang tinggi.
2. Membersihkan hati.
Tugas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang kedua pada ayat di atas adalah membersihkan hati. Kata tazkiyah itu artinya adalah membersihkan. Dan Allah menggunakan kata ”Wa yuzakkihim” yaitu membersihkan hati mereka.
Bacaan ayat-ayat suci dari Nabi dan uraian–uraian Baginda Nabi kepada ummatnya yang beliau lakukan ketika itu telah mampu membuat hati mereka (para Sahabat) menjadi suci dan bersih.
Program pembersihan hati itu berlangsung di rumah Arqam bin Abil Arqam Radhiyallahu ‘anhu dan terus menerus berlanjut secara intensif selama Nabi dan para Sahabat itu tinggal di Makkah. Usaha atas penyucian hati itu berhasil dengan gilang gemilang, dan berhasil memusnahkan seluruh kabut kemusyrikan yang pernah mencengkeram hati mereka pada masa jahiliyah.
3. Mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (Sunnah) yaitu ILMU.
Pada poin yang ketiga ini Allah memberi kepada Rasul-Nya yang Mulia sebuah tugas lagi yaitu mengajarkan ilmu kepada ummatnya.
(Kata “yu’allim“ berarti dia mengajarkan).
Ini adalah dalil yang amat jelas dan nyata yang menunjukkan kepada kita bahwa ilmu itu baru dapat mudah masuk dan meresap kedalam hati manusia bila hatinya telah dibersihkan terlebih dahulu.
Bila ilmu masuk ke dalam hati yang bersih, maka jadilah ilmu itu tumbuh subur dan berkembang menjadi pedoman hidup bagi manusia itu. Sehingga memberi manfaatlah ilmunya itu bagi dirinya dan kemudian memberi manfaat kepada orang-orang lain pula.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berdo’a: “Kami berlindung kepadaMu (Allah) dari ilmu yang tidak memberi manfaat”.
Namun apabila ilmu itu dipaksa masuk ke dalam hati orang yang kotor, rusak dan berkarat, maka bagaimana mungkin ilmu itu dapat memberi manfaat pada orang tersebut?
Ilmu itu adalah nur dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan hati adalah tempatnya. Bila hati itu tertutup oleh berbagai daki dan kotoran, maka sangatlah mustahil cahaya dapat menembus keluar dari hati tersebut. Ibarat lampu sebuah mobil yang berkekuatan ratusan watt sekalipun, apabila kaca lampu itu dilumuri oleh aspal yang tebal, bagaimana mungkin cahayanya dapat menembus keluar dari lumuran aspal tersebut ?
Maka menjadi hilanglah fungsi lampu sebagai penerang bagi mobil itu. Dan bila di malam hari orang yang punya mobil tersebut tetap nekat untuk memakainya, maka sudah dapat diramalkan dia akan celaka di dalam perjalanannya.
Demikian juga orang yang hatinya berkarat oleh bermacam dosa dan ma’siat. Jika hatinya itu dimasuki oleh ilmu, meskipun ilmu itu adalah nur dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka bagaimana mungkin cahaya nur itu dapat menembus hatinya yang kotor dan berkerak? Sudah jelas manfaat terangnya nur ilmu pada dirinya akan hilang.
Dan jika dia tetap nekat berjalan dengan hatinya yang kotor dalam mengharungi kehidupan dunia yang gelap gulita ini, maka sudah dapat dipastikan perjalanannya akan sesat dan besar kemungkinan dirinya akan terperosok ke dalam jurang kehidupan.
Pada masa ini betapa banyak orang yang terjebak dalam menuntut ilmu. Mereka merasa asyik dengan manisnya pelajaran yang diterima dalam majelis ilmu tersebut sampai “mabuk” dengan ilmu itu. Namun sayang, mereka lupa membersihkan hati dari segala penyakit hati. Akhirnya hati mereka tetap kotor penuh dengan penyakit hati; iri dengki, ‘ujub, merasa diri paling benar dan lain-lain. Lalu ilmu tersebut tidak memberi manfaat kepada mereka karena terhijab oleh ma’siat hati.
Mereka mabuk dan tenggelam dengan pembahasan ilmu; fasal demi fasal, bab demi bab, judul demi judul, sehingga banyak diantara mereka tertipu syaitan.
Syaitan pun berkuasa di dalam hati mereka dan memasukkan racun berbisa, sehingga timbul anggapan bahwa dengan membahas-bahas ilmu tersebut mereka sudah menjadi “ahli ilmu” dan “pengamal ilmu”.
Mereka membahas seluk beluk shalat tahajjud sedetail-detailnya, sampai benar-benar mengerti bahkan tak jarang yang hafal pula dalil-dalilnya. Namun berapa banyak kah diantara mereka yang mau melakukan shalat tahajjud itu ?
Mereka membahas tentang bab sabar, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan sampai hafal dalil-dalilnya. Kemana-mana mereka pergi, kitab tentang bab sabar itu tak pernah lupa dibawa. Tiap ada kesempatan, buku itu ditelaahnya untuk mengulang kembali pelajaran sabar tersebut.
Sudahkah dia mendapatkan sifat sabar yang berbulan-bulan dibaca dan dipelajarinya itu ? Ternyata tidak ……!!
Tiba-tiba seekor kucing miliknya melompat ke atas meja makan, dan menghancurkan beberapa piring keramik kesayangannya. Dengan serta merta marahnya meledak, dan buku sabar yang ada di tangannya, melayang menghajar kucingnya itu...!
Suatu hari ada seorang gadis yang belajar di pesantren sedang pulang kampung, karena liburan sekolah selama satu bulan. Setiap pagi gadis tersebut ber-olahraga dengan memakai pakaian sport, celana pendek dan kaos t-shirt sambil berlari pagi keliling kampungnya.
Suatu pagi seorang ibu menyapa gadis itu, ketika dia baru saja selesai berlari dan sedang berjalan santai menuju ke rumahnya.
Ibu tersebut bertanya : “Dari mana nak…. ?”
“Olahraga, bu …!” Jawabnya.
“O…nggak ke pesantren ?”, tanya ibu itu.
“Lagi liburan, bu..!“ Jawabnya.
“Ibu boleh bertanya, nak….. ?” Kata ibu itu.
“Tentu dong….bu!”, katanya ramah.
“Apa ada dalilnya yang memerintahkan wajibnya menutup aurat, nak ?”, tanya sang ibu.
“Oh, ada bu…!!” Jawabnya lincah.
Kemudian dengan fasih, gadis pesantren tersebut membacakan Al Qur’an Surat Al Ahzab ayat 59, serta sekaligus membacakan arti ayat itu kepada ibu tersebut.
” Hai Nabi ! Katakanlah kepada istri-istrimu, dan anak-anak perempuanmu serta kepada perempuan-perempuan mu’min agar mereka menutup seluruh tubuhnya dengan jilbab…!!”
“Nah itu dia bu….dalilnya..!!” katanya tanpa ragu-ragu.
Lantas ibu itu berujar: ” OOO….. begitu ya, nak…!! Jadi kok kamu nggak pakai jilbab kalau hal itu wajib… ??”
“PAANNNAAAAAASSSSSS……” jawabnya, sambil kembali berlari menuju rumahnya.
Apakah gadis pesantren tersebut tidak berilmu…??!
Dia berilmu….
Apakah gadis pesantren itu tidak tahu hukumnya menutup aurat..?!
Dia tahu…
Lantas kenapa ilmu nya tidak menerangi kehidupannya..??!
Iman-nya lemah dan hatinya gelap..!!
Lantas kenapa..? Iman mereka “merlep” (lampu yang hampir mati___ (bhs medan, pen) dan kalah dengan nafsu.
Kedudukan iman dan ilmu seseorang diletakkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam hatinya. Jadi iman dan ilmu kedua-duanya bertempat di dalam hati manusia.
Inilah ajaran Islam. Dia berbeda dengan pendapat science, yang menganggap bahwa ilmu itu diletakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam otak manusia.
Iman seseorang itu dapat bertambah dan berkurang sesuai dengan perjuangan dan pengorbanannya dalam melaksanakan ajaran agama. Iman inilah yang berfungsi untuk mendorong seseorang mengerjakan amal-amal shalih. Bukan seperti yang dipahami oleh sebagian besar orang bahwa seseorang itu mau beramal adalah atas dorongan ilmunya. Ilmu tidak mendorong seseorang mau taat kepada Allah.
Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi namun keadaannya sangat memprihatinkan. Tidak mau beramal, bahkan rajin melakukan ma’siat. Hampir-hampir tidak punya malu dan sering mengeluarkan fatwa yang aneh-aneh.
Kenapa ada orang yang berilmu tinggi tetapi tidak punya malu ? Jawabnya tidak lain karena imannya lemah.
Hal tersebut sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Malu itu sebagian dari Iman”
Kedudukan iman, ilmu dan amal pada diri seseorang dapat digambarkan seperti lokomotif, rel dan gerbongnya. Lokomotif seumpama iman, rel seumpama ilmu dan gerbong-gerbongnya seumpama amal seseorang maka semakin banyaklah amal yang dapat diperbuatnya. pada diri seseorang itu. Semakin kuat power yang ada pada lokomotif tersebut, maka semakin banyaklah gerbong yang bisa ditariknya. Semakin kuat
Adapun fungsi rel adalah menyampaikan kereta api dan gerbong itu kepada tujuan yang ingin dituju. Itulah ilmu. Semakin tinggi ilmu yang ada pada seseorang yang beriman, maka semakin jauhlah perjalanan rohaninya menuju Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Iman saja tanpa adanya ilmu adalah sia-sia. Bagaimana mungkin lokomotif dapat menarik gerbong jika tidak ada relnya. Tetapi apalah artinya rel yang panjang tanpa adanya lokomotif dan gerbong, yang senantiasa berjalan di atasnya.
Ilmu yang tidak dipenuhi oleh iman dan amal, ibarat rel yang panjang tetapi tidak pernah dilalui oleh sebuah kereta api pun. Apakah yang akan terjadi dengan rel kereta api itu …. ? Dia akan berkarat dan wilayah rel itu akan ditumbuhi oleh semak belukar yang penuh dengan binatang-binatang berbisa yang membahayakan.
Di zaman ini banyak kita lihat orang-orang yang memiliki ilmu agama, termasyhur di tengah masyarakat sebagai kiyai namun selalu muncul dari mulutnya fatwa-fatwa ganjil dan aneh. Mereka dengan tidak tahu malu dan tanpa rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala berani menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.
Kita berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari keadaan sedemikian…!
Karena iman dan ilmu itu diletakkan Allah di dalam hati, maka jelaslah bagi kita bagaimana pentingnya menjaga hati agar senantiasa bersih-bersinar. Sehingga dengan demikian sinar iman dan ilmu itu menjadi kuat dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Namun demikian, kita tidak boleh menafikan keberadaan ilmu. Sebab, Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam amat memuji tentang keberadaan ilmu. Tetapi sebaliknya, kita juga tidak boleh menafikan pentingnya iman serta perjuangan untuk memelihara dan menguatkan keberadaan iman tersebut.
Begitu juga hati, sebagai tempat adanya iman dan ilmu tentu amat perlu untuk dipelihara dan dijaga agar iman dan ilmu yang ada di dalamnya itu dapat berfungsi secara maksimal, sehingga akan mapu menghasilkan amal yang baik, benar dan maksimal.
Wallahu A'lam Bishshowab
Langganan:
Postingan (Atom)
My First Son
Nabil Rizki Hamidi


